Perkembangan desa transmigrasi dan desa sekitarnya di Kecamatan Sitiung Kabupaten Sawahlunto Sijunjung
PARYANTO, Ir. Gunung Radjiman, MSc
2004 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahPenelitian ini bertujuan menunjukkan tingkat perkembangan desa transmigrasi dan desa non transmigrasi yang berada di sekitarnya di Kecamatan Sitiung ditinjau dari sosial-ekonomi dan fisik serta ingin mengetahui faktor yang mempengaruhi perkembangannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan rasionalistik. Berdasarkan hasil penelitian diketahui : (1) Terjadi perkembangan desa di Desa Koto Agung, Desa Sungai Duo dan Desa Pulai dilihat dari perubahan penggunaan lahan, kependudukan, interaksi dan perkembangan tingkat pendapatan penduduk selama kurun waktu 1980-2000; (2) Perkembangan desa transmigrasi tergolong relatif cepat yang ditandai dengan penggunaan lahan yang sangat efektif, perkembangan permukiman yang cukup kuat, penduduk yang bertambah, mata pencaharian penduduk mulai bergerak dibidang lain, pendapatan masyarakat yang meningkat ditandai dengan kepemilikan sarana transportasi dan telekomunikasi terus bertambah serta peningkatan fisik bangunan rumah menjadi permanen, interaksi antar desa lebih intensif dan aksesibilitas lokasi desa relatif mudah dijangkau; (3) Perkembangan desa non transmigrasi relatif lambat ditandai dengan masih banyak lahan yang belum diolah menjadi lahan produktif, perkembangan permukiman penduduk desa tidak terlalu kuat, penduduk yang bertambah, peningkatan pendapatan penduduk tidak terlalu besar; (4) Faktor perkembangan desa transmigrasi berupa tersedianya prasarana desa, sikap penduduk desa yang tercermin pada semangat kerja yang tinggi dalam mengolah lahan dan mengelola pendapatan untuk kebutuhan produktif, intensitas interaksi dengan desa lain, kebijakan pemerintah; (5) Faktor perkembangan desa non transmigrasi berupa masih cukup tersedianya lahan untuk melakukan kegiatan produktif, letak desa dekat dengan jalan raya dan sungai serta dekat dengan permukiman transmigrasi, interaksi dengan penduduk desa transmigrasi yang semakin intensif, kebijakan pemerintah; (6) Persamaan perkembangan desa terletak pada penggunaan lahan yang diarahkan pada kegiatan produktif, rata-rata pertumbuhan penduduk, kebijakan pemerintah yang ditujukan pada perkembangan wilayah; (7) Perbedaan perkembangan desa terdapat pada perkembangan permukiman, tingkat pendidikan penduduk, rata-rata tingkat pendapatan pend uduk, aksesibilitas lokasi desa, interaksi antar desa.
This research aims to demonstrate the development level of transmigration village and non-transmigration villages in Sitiung sub-district as seen from the social economic and physical aspects and to find out the factors that affect the development. The method used is qualitative, and the approach is rationalistic. The research results identify that: (1) development is evident in Koto Agung village, Sungai Duo village, and Pulai village as seen from the change of land use, population, interaction, and income improvement during the 1980-2000 periods; (2) the development of transmigration village is relatively faster, marked with a highly effective use of land, strong development of settlement, population increase, diversification of professions into other sectors, income increase as indicated by possession of transportation and telecommunication means, houses improvement into permanent ones, more intensive interaction among villages owing to complete infrastructure and easy access to the villages; (3) the development of nontransmigration villages is relatively slower, characterized with bigger number of uncultivated land, less stronger development of settlement, slight increase of population, insignificant improvement of income; (4) the factors of transmigration village development are the availability of village infrastructure, attitude which is reflected in higher working motivation to cultivate land and manage income for productive need, intensity of interaction with other villages, and the government policy; (5) The factors of non-transmigration village development are adequate availability of land for productive activity, proximity to highway and river as well as to the transmigration village, more intensive interaction with transmigrates, and the government policy; (6) The similarity of the development lies in the use of land for productive activities, the rate of population growth, the government policy towards regional development; (7) The difference lies in the development of settlement, level of education, average of income, accessibility to the village, and interaction among villages.
Kata Kunci : Desa Transmigrasi,Perkembangan Desa,land use, population growth, level of income, accessibility, interaction, factor of village development