Penggunaan ruang pada Suku Sasak di Desa Puyung Kabupaten Lombok Tengah
FITRIANI, Siti Makiah, Ir. Gunung Radjiman, MSc
2004 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahPenggunaan ruang di Desa Puyung dipengaruhi oleh sistem kebudayaan yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang dianut. Sistem kebudayaan ini tertuang ke dalam bentuk ruang dan perilaku Suku Sasak itu sendiri yang disesuaikan dengan keadaan alam yang dihuninya. Berdasarkan latar belakang perlunya pemahaman perilaku masyarakat Desa Puyung dalam penguasaan dan pengawasan terhadap habitat atau lingkungannya, maka aspek-aspek norma, kultur, dan psikologi masyarakat dapat menghasilkan konsepsi ruang yang berbeda. Penelitian ini bertujuan; (1) Mengidentifikasi pengaruh faktor sosiokultural masyarakat terhadap struktur dan pola penggunaan ruang di Desa Puyung; (2) Mengetahui implikasi penggunaan ruang pada proses perkembangan Desa Puyung yang telah terjadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan rasionalistik dengan pembahasan dilakukan secara deskriptif kualitatif untuk menjelaskan atau untuk membuat deskriptif secara sistematis, mengenai kejadian kehidupan yang terjadi berkaitan dengan pemanfaatan lahan dan perkembangan ruang desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Struktur ruang Desa Puyung memiliki pusat di Dusun Pedalaman dan Dusun Singgasari, karena pada pusat desa tersebut terdapat kantor desa, pasar, terminal dan alun-alun desa. Pusat desa tersebut juga didukung oleh jaringan dengan fungsi jalan arteri sekunder. (2) Pola desa yang terbentuk adalah pola linier di sepanjang jalan utama desa. Kecenderungan perkembangan fisik desa saat ini cenderung ke arah utara-selatan, sehingga pengembangan ruang desa tetap mempertahankan pola yang ada. Hal ini dimaksudkan agar pelayanan yang diberikan kepada peduduk dapat dilakukan secara merata, yang mencakup pelayanan regional (fungsi primer) dan pelayanan lokal (fungsi sekunder). (3) Pengaruh budaya Suku Sasak terhadap struktur ruang masih sedemikian besar yang tercerminkan dengan terbentuknya tiga bentuk ruang yaitu: (a) Ruang makro, yaitu ruang yang digunakan untuk seluruh aktivitas kebudayaan masyarakat Suku Sasak; (b) Ruang meso, yaitu ruang yang digunakan untuk aktivitas kebudayaan, tetapi terdapat perbedaan baik dari jenis kelamin maupun golongan (c) Ruang mikro, yaitu ruang yang digunakan sebagai tempat interaksi dalam lingkup yang lebih kecil untuk kepentingan individual.
Land utilization in Puyung Village has been influenced by the local cultural system, i.e. values and norms devoted by the inhabitants. Such cultural system is manifested through the behavior and the utilization of land for various activities of Sasak tribe, and adapting with the natural conditions. An understanding of the behavior of the society of Puyung Village in the occupation and utilization of land, which have resulted different norms and spatial concept, is necessary. The objectives of this research are: (1) to identify the influence of sociocultural factors on the structure and pattern of land utilization in Puyung Village; and (2) to understand the implication of such land utilization pattern to the development of Puyung Village. This research was undertaken using rationalistic approach and a combination between descriptive and qualitative methods in conducting the analysis. The descriptive-qualitative method was employed to systematically explain the phenomena of land utilization and spatial development of the village. The results of the research reveal that: (1) the structure of Puyung Village comprises activity centers which is located in Pedalaman and Singgasari subvillages, because there are administrative function, market, terminal and village square in the two sub-villages; these two centers are also supported by the presence of secondary arterial roads; (2) the current physical pattern is linear along the main village corridor, with a propensity of growth towards north-south direction, thus maintaining the already existed pattern; such a growth is also aimed at providing services equally to the community, either at the regional or local level; (3) the influence of the culture of Sasak tribe is quite significant, which is reflected through the development of three types of space: (a) macro space, the space used for all cultural activities of the society of Sasak tribe; (b) Messo space, the space used for cultural activities, but follows the rule of segregation by gender or ethnic sub- groups; (c) Micro space, the space used for social interaction within smaller scope for individual purposes.
Kata Kunci : Perkembangan Desa,Pola Ruang,Sosio Kultural Masyarakat, socio-cultural factors, structure and pattern of village, implication of village development