Laporkan Masalah

Faktor-Faktor Determinan Yang Memengaruhi Kejadian Epilepsi Tidak Terkontrol Dengan Monoterapi Pada Anak-Anak

Nefanny Ridwan, Dr. dr. Atitya Fithri Khairani M.Sc.,Sp.N.,Subsp.ENK(K); Prof. Dr. dr. Ismail Setyopranoto, Sp.N.,Subsp.NIOO(K)

2025 | Tesis-Spesialis | S2 Ilmu Penyakit Saraf

Latar belakang: Epilepsi merupakan salah satu penyakit kronis yang sering terjadi pada anak-anak, sekitar 30-40% pasien mengalami epilepsi tidak terkontrol meskipun telah mendapatkan obat anti bangkitan (OAB) tunggal (monoterapi). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor determinan yang memengaruhi kejadian epilepsi tidak terkontrol dengan monoterapi pada anak-anak di RSUP Dr. Sardjito. 

Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain studi potong lintang retrospektif untuk analisis kuantitatif dan wawancara untuk analisis kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari rekam medis pasien epilepsi anak yang telah mendapatkan monoterapi di RSUP Dr. Sardjito, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara dengan orang tua pasien. Analisis data kuantitatif menggunakan uji bivariat untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel independen dengan kejadian epilepsi tidak terkontrol, sedangkan data kualitatif dianalisis dengan metode tematik.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 121 anak dengan epilepsi yang menjalani monoterapi, sekitar 42% mengalami epilepsi tidak terkontrol. Faktor-faktor seperti usia awal onset, frekuensi kejang, adanya gangguan neuropsikiatri, dan riwayat keluarga dengan epilepsi berkontribusi terhadap ketidakberhasilan pengobatan monoterapi dengan hasil signifikan fenitoin mengalami kejang tidak terkontrol sebanyak 20 (32,3%) (p=0,007, OR=3,5). Wawancara dengan orang tua pasien juga mengungkapkan adanya keterbatasan akses terhadap informasi mengenai epilepsi, kendala dalam kepatuhan terapi, serta dampak sosial dan psikologis dari epilepsi tidak terkontrol pada anak dan keluarga mereka.

Kesimpulan: Epilepsi tidak terkontrol dengan monoterapi pada anak-anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya jenis kejang, usia onset, frekuensi kejang sebelum terapi, adanya kelainan neurologis penyerta, dan respon terhadap terapi awal. Penanganan epilepsi pada anak-anak harus lebih terfokus pada pendekatan individual dengan mempertimbangkan faktor risiko ini untuk meningkatkan efektivitas terapi dan kualitas hidup pasien.


Objective: Epilepsy is one of the most common chronic diseases in children, with approximately 30-40% of patients experiencing uncontrolled epilepsy despite receiving a single antiepileptic drug (AED) monotherapy. This study aims to analyze the determinant factors influencing the occurrence of uncontrolled epilepsy with monotherapy in children at Dr. Sardjito General Hospital.

Methods: This study employed a mixed-methods approach with a retrospective cross-sectional study design for quantitative analysis and interviews for qualitative analysis. Quantitative data were obtained from medical records of pediatric epilepsy patients who had received monotherapy at Dr. Sardjito General Hospital, while qualitative data were collected through interviews with the parents of the patients. Quantitative data analysis was conducted using bivariate tests to identify the relationship between independent variables and the occurrence of uncontrolled epilepsy, whereas qualitative data were analyzed using a thematic method.

Results: The study found that out of 121 children with epilepsy undergoing monotherapy, approximately 42% experienced uncontrolled epilepsy. Several factors, such as early onset age, seizure frequency, the presence of neuropsychiatric disorders, and a family history of epilepsy, contributed to the failure of monotherapy treatment. The results showed a significant correlation with phenytoin, where 20 (32.3%) patients experienced uncontrolled seizures (p=0.007, OR=3.5). Interviews with parents also revealed limited access to information about epilepsy, challenges in treatment adherence, and the social and psychological impact of uncontrolled epilepsy on children and their families.

Conclusions: Uncontrolled epilepsy with monotherapy in children is influenced by various factors, including seizure type, age of onset, pre-treatment seizure frequency, the presence of comorbid neurological disorders, and response to initial therapy. The management of epilepsy in children should focus more on an individualized approach by considering these risk factors to enhance treatment effectiveness and improve patient quality of life.

Kata Kunci : epilepsi anak, monoterapi, faktor determinan, epilepsi tidak terkontrol, obat anti bangkitan, OAB

  1. SPESIALIS-2025-484418-abstract.pdf  
  2. SPESIALIS-2025-484418-bibliography.pdf  
  3. SPESIALIS-2025-484418-tableofcontent.pdf  
  4. SPESIALIS-2025-484418-title.pdf