STUDI PERTUMBUHAN LARVA DAN PUPA Chrysomya megacephala (Fabricius, 1794) UNTUK ESTIMASI POSTMORTEM INTERVAL (PMI)
Rizki Maulana Martin, Prof. dr. Tri Baskoro T Satoto, M.Sc., Ph.D ; April Hari Wardhana, SKH.,M.Si.,Ph.D
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Tropis
Chrysomya megacephala (Fabricius, 1794), merupakan salah satu serangga
nekrofagus dari keluarga Calliphoridae yang berperan penting pada keilmuan
entomologi forensik dalam membantu investigasi kematian menggunakan analisis Postmortem Interval (PMI). Namun, salah
satu faktor yang menentukan kecepatan durasi pertumbuhan lalat adalah suhu. Dengan mengetahui data variasi
suhu lapang yang berimplikasi terhadap durasi pertumbuhannya, maka analisis PMI
dalam menentukan waktu kematian mayat akan lebih akurat. Sejauh ini, data
durasi pertumbuhan larva C. megacephala
dengan variasi suhu lapang di Indonesia belum pernah dilaporkan. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perubahan suhu terhadap durasi
pertumbuhan larva C. megacephala serta estimasi
(Postmortem Interval) dan untuk mengetahui pengaruh
durasi perubahan suhu terhadap rerata performa bobot, panjang larva dan pupa C. megacephala. Desain penelitian ini
menggunakan quasi-eksperimental
(eksperimental semu) dengan pendekatan one
shot posttest only design dengan empat perlakuan suhu, yaitu 27°C, 31°C,
35°C dan 38°C. Penangkapan sumber sampel lalat C. megacephala dilakukan di tiga Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Lalat dipelihara di laboratorium menggunakan
dua jenis media buatan, yaitu meat blood
mexture (MBM) untuk penetasan telur menjadi larva instar 1 (L1) dan larval rearing media (LRM) untuk
pertumbuhan larva instar 2 (L2) sampai menjadi pupa. Lalat dipelihara sampai
memperoleh generasi kedua yang stabil, kemudian digunakan untuk penelitian.
Pemeliharaan telur hingga menjadi larva dan pupa dilakukan di dalam inkubator
dengan setelah suhu tertentu ± 0,5oC. Setiap
perlakukan perubahan suhu menggunakan enam ulangan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa durasi pertumbuhan lalat C.
megacephala juga berbeda setiap perubahan suhu yang diuji, yaitu pada suhu 27 ± 0,5°C (224 jam 31 ±
0,5°C (181 jam), 35 ± 0,5°C (172 jam),
dan 38 ± 0,5°C (171 jam). Terdapat perbedaan
signifikan antara panjang larva instar 1, larva instar 2, dan larva instar 3
dengan perubahan suhu (p=0,000), (p=0,020), dan (p=0,001). Terdapat perbedaan
signifikan antara bobot larva instar 1, larva instar 2, larva Instar 3, dan
Pupa dengan perubahan suhu (p=0,023),
(p=0,000), (p=0,007), dan (p=0,000).
Data durasi pertumbuhan ini memiliki implikasi yang nyata pada bidang
entomologi forensik dalam menentukan kematian mayat menggunakan analisis PMI
terutama di Indonesia.
Chrysomya megacephala (Fabricius, 1794), is a necrophagous
insect of the Calliphoridae family that plays an important role in forensic
entomology in assisting death investigations using Postmortem Interval (PMI) analysis. However, one of the factors
that determine the speed of fly growth duration is temperature. By knowing the
data on field temperature variations that have implications for the duration of
growth, the PMI analysis in determining the time of death of the corpse will be
more accurate. So far, data on the growth duration of C. megacephala larvae with variations in field temperature in
Indonesia have not been reported. The purpose of this study was to determine
the effect of temperature changes on the growth duration of C. megacephala larvae and to estimate the Postmortem Interval
(PMI) and to determine the
effect of temperature change duration on the mean performance of weight, length
of larvae and pupae of C. megacephala. This
research design used a quasi-experimental approach with a one shot posttest only design with four temperature treatments,
namely 27°C, 31°C, 35°C and 38°C. Capture of C. megacephala flies was conducted in three waste disposal sites in
Banyuwangi Regency, East Java. Flies were reared in the laboratory using two
types of artificial media, namely meat
blood mexture (MBM) for hatching eggs into 1st instar larvae (L1) and larval rearing media (LRM) for growth of
2nd instar larvae (L2) to pupae. Flies were reared until a stable second
generation was obtained, then used for research. The rearing of eggs to larvae
and pupae was conducted in an incubator after a certain temperature of ± 0.5oC. Each temperature change
treatment used six replicates. The results showed that the growth duration of C. megacephala flies was also different
for each temperature change tested, namely at 27 ±
0.5°C (224 hours), 31 ± 0.5°C (181
hours), 35 ± 0.5°C (172 hours), and 38 ± 0.5°C (171 hours). There were significant
differences between the length of 1st instar larvae, 2nd instar larvae, and 3rd
instar larvae with temperature changes (p=0.000), (p=0.020), and (p=0.001).
There were significant differences between the weights of 1st instar larvae,
2nd instar larvae, 3rd instar larvae, and pupae with temperature changes
(p=0.023), (p=0.000), (p=0.007), and (p=0.000).
This growth duration data has obvious implications for the field of
forensic entomology in determining the death of corpses using PMI analysis,
especially in Indonesia.
Kata Kunci : Chrysomya megacephala, Postmortem Interval (PMI), Entomologi forensik