Adaptasi ruang dari pengungsi :: Studi kasus pengungsi AMbon di Kota Bau-bau Provinsi Sulawesi Tenggara
ROBERT, Johannes, Ir. Haryadi, M.Arch.,Ph.D
2004 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahPenelitian ini berkaitan dengan konsep urbanisasi yang bertujuan untuk : mendeskripsikan cara dan bentuk pengungsi beradaptasi, dan menguraikan implikasi keruangan dari adaptasi ruang oleh pengungsi di Kota Bau-Bau. Hal ini dianggap penting karena terdapat pertambahan penduduk yang tinggi akibat arus migrasi penduduk (pengungsi) dari Ambon di Kota Bau-Bau dari tahun 1999 hingga tahun 2000 yang memperlihatkan adanya gejala urbanisasi, sehingga untuk membuktikannya secara ilmiah perlu dilakukan suatu penelitian. Sampel yang diteliti adalah sejumlah 100 kepala keluarga pengungsi korban konflik sosial di Ambon yang telah menetap di Kota Bau-Bau sejak tahun 1999. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster sampling, dengan pertimbangan bahwa secara geografis terdapat pengungsi yang tinggal berbaur dengan penduduk lokal di pusat kota dan terdapat pula pengungsi yang tinggal mengelompok di pinggiran pusat kota. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, yakni data deskriptif verbal yang dihasilkan diinterpretasikan, kemudian ditelaah secara deskripsi kualitatif, selanjutnya disimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya pengungsian dari Ambon ke Kota Bau-Bau disebabkan oleh adanya konflik sosial bernuansa isu suku dan agama yang terjadi di Ambon, alasan pemilihan Kota Bau-Bau sebagai tujuan pengungsian adalah berdasarkan pertimbangan faktor sosio-kultural yakni suku dan agama. Dalam beradaptasi di Kota Bau-Bau, pada umumnya para pengungsi dibimbing oleh latar belakang perkerjaan, pendidikan dan ikatan kekerabatan sehingga terjadi dua bentuk pola persebaran pengungsi di Kota Bau-Bau yakni pengungsi yang berbaur di pusat kota dan yang mengelompok di pinggiran pusat kota. Bentuk penyesuaian yang ditemui adalah penyesuaian terhadap fisik ruang kota yakni penyesuaian terhadap kondisi lingkungan dan tempat tinggal seperti : penyesuaian terhadap kondisi rumah yang temporer, penyesuaian terhadap lingkungan yang kumuh. Juga ditemui penyesuaian terhadap biososial yakni penyesuaian terhadap norma-norma dan aturanaturan yang berlaku pada masyarakat lokal serta penyesuaian terhadap kehidupan kolektif melalui pembentukan lembaga sosial seperti : kelompok Majlis Taklim, kelompok Dasa Wisma. Implikasi keruangan yang ditemukan adalah adanya perubahan sistim aktifitas, seperti : munculnya kegiatan di sektor informal, lingkungan kumuh, perubahan jenis moda angkutan darat serta perubahan pada arah perkembangan morfologi kota.
This research relates to the concept of urbanization and aims to describe the way and form of refugee’s adaptation, and to analyse the spatial implication of the spatial adaptation by the refugees in Bau Bau city. This research is necessary, for there is a high population increase in Bau Bau city as a result of migration (flow of refugees) from Ambon from 1999 to 2000, indicating a sign of urbanization. Therefore, to find scientific evidences, a research needs to be conducted. The researched samples consisted of 100 family heads of refugees, the victims of social conflict in Ambon, who have then resided in Bau Bau city since 1999. The sampling technique used is a cluster sampling in regard that geographically there are refugees living among the local inhabitant in the city centre, and also those who lived in groups in suburb areas. The data were analysed using a descriptive method, that is interpreting verbal descriptive data and then reviewed descriptively and qualitatively in order to draw a conclusion. The research results show that the refuge from Ambon to Bau Bau city resulted from a social conflict imbued with racial and religious issues spreading in Ambon. The reason for choosing Bau Bau city as their destination is based on the consideration of social-cultural factor, namely race and religion. In their adaptation in Bau Bau city, the refugees are generally influenced by their professional, educational, and kinship background, which gives 2 patterns of refugee distribution in this city. The first pattern is that they mingled with the locals in the city centre, and the second pattern is that they live in groups in suburban areas. The form of adaptation identified is adaptation toward the physical urban space, i.e., adaptation to the environment and dwelling place condition such as adaptation to the temporary housing condition and to a dirty environment (slum). Another adaptation is identified, i.e., biosocial adaptation to the norms and rules adopted by the local society, and also adaptation to collective living by means of forming social institutions such as Majlis Taklim forum and Dasa Wisma group. The spatial implication found is a change in their system of activities, such as the emergence of activities of informal sector, slum area, a change of land transport modes, and a change in the direction of urban morphological development.
Kata Kunci : Permukiman Pengungsi,Adaptasi Ruang