Penolakan Peneluran Spodoptera exigua pada Tanaman Bawang Merah yang Ditanam secara Tumpang Sari dengan Kacang Tanah dan Kacang Tunggak
Diarsi Atiki Widotami, Prof. Dr. Ir. Witjaksono, M.Sc; Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Hama Tumbuhan
Bawang merah (Allium cepa var.
aggregatum) adalah tanaman umbi-umbian bernilai tinggi yang menjadi komoditas
utama dalam kuliner Indonesia, dengan permintaan yang meningkat setiap tahun.
Spodoptera exigua merupakan hama utama pada tanaman bawang merah yang
menyebabkan kerusakan signifikan pada daun dan menurunkan hasil panen. Salah
satu solusi potensial dalam mengendalikan hama S. exigua pada tanaman bawang merah adalah melalui sistem tumpang
sari bawang merah dengan tanaman kacang tanah dan kacang tunggak. Praktik
pengendalian secara tumpang sari berfungsi sebagai barrier atau
penghalang hama utama untuk menemukan tanaman inang yang diinginkan. Metode
yang digunakan adalah metode no-choice (monokultur) dan choice
(tumpang sari). Parameter yang diamati adalah
jumlah telur yang dihasilkan oleh S.
exigua pada tanaman perlakuan yang ditanam secara monokultur maupun tumpang
sari. Jumlah telur yang diletakkan (oviposisi) oleh induk betina S. exigua pada tanaman bawang merah yang
ditanam secara tumpang sari dengan kacang tanah dan kacang tunggak lebih
sedikit dibandingkan pada bawang merah yang ditanam secara monokultur. Tumpang sari
bawang merah dengan tanaman kacang tanah dan kacang tunggak dapat digunakan
sebagai pengendalian ramah lingkungan.
Shallot (Allium cepa var. aggregatum) is a high-value root crop that is a major commodity in Indonesian cuisine, with demand increasing every year. Spodoptera exigua is a major pest in shallot crops that causes significant damage to the leaves and reduces yield. One of the potential solutions in controlling S. exigua pests in shallot crops is through intercropping shallot with groundnut and cowpea crops. Intercropping control practices serve as a barrier for the main pest to find the desired host plant. The methods used were no-choice (monoculture) and choice (intercropping). The parameters observed were the number of eggs produced by S. exigua in the treatment plants grown in monoculture and intercropping. The number of eggs laid (oviposition) by female S. exigua in shallot plants intercropped with groundnut and cowpea was less than in shallot planted in monoculture. Intercropping shallots with groundnut and cowpea plants can be used as an environmentally friendly contro
Kata Kunci : Bawang Merah, Kacang Tanah, Kacang Tunggak, Oviposisi, Spodoptera exigua