Laporkan Masalah

Collaborative Governance Regime: Mengatasi Food Waste dalam Rangka Mewujudkan Food Smart City Kota Surakarta

Damar Adhy Aksa, Ely Susanto, S.IP., MBA., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 Administrasi Publik

Food waste merupakan permasalahan serius diseluruh dunia yang menimbulkan dampak pada aspek ekonomi, lingkungan, gizi, dan sosial. Penanganan food waste memerlukan kolaborasi berbagai aktor. Penelitian ini akan menganalisis proses kolaborasi yang dilakukan dalam penanganan food waste dengan studi kasus di Kota Surakarta. Kota Surakarta telah melakukan kolaborasi dalam penanganan food waste dalam mewujudkan Food Smart City atau Kota Cerdas Pangan.

Kolaborasi dianalisis dengan menggunakan kerangka collaborative governance regime. Analisis dalam penelitian ini meliputi kriteria, faktor pendorong, collaborative dynamic dan kendala-kendala kolaborasi penanganan food waste di Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informasi dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara semistruktur dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi dalam penanganan food waste di Kota Surakarta memenuhi kriteria collaborative governance. Kolaborasi diinisiasi oleh aktor non-pemerintah yaitu Yayasan Gita Pertiwi. Kolaborasi penanganan food waste di Kota Surakarta dilakukan dengan food sharing dan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Pemangku kepentingan yang terlibat langsung dalam kolaborasi terdiri dari unsur pemerintah, komunitas dan swasta. Faktor pendorong kolaborasi adalah adanya ketidakpastian, ketergantungan dan insentif konsekuensial. Keberlanjutan kolaborasi dipengaruhi oleh proses interaktif dan iteratif komponen collaboration dynamic yang terjadi yaitu keterlibatan yang berprinsip, motivasi bersama, dan kapasitas untuk tindakan bersama. Namun proses kolaborasi memiliki kekurangan yaitu pembagian peran yang tidak jelas dan komitmen yang cenderung bersifat infomal. Kolaborasi yang dilakukan juga mengalami beberapa kendala yaitu faktor ketidakjelasan batasan masalah dan faktor budaya. Temuan ini menyoroti perlunya pembagian peran yang lebih jelas, komitmen formal yang lebih kuat, penentuan indikator keberhasilan dan strategi untuk mengatasi hambatan budaya guna memastikan keberhasilan jangka panjang dalam penanganan food waste di Surakarta.

Food waste is a serious global issue that impacts economic, environmental, nutritional, and social aspects. Managing food waste requires collaboration among various actors. This study analyzes the collaborative process in handling food waste, using the case of Surakarta City. Surakarta has implemented collaborative efforts to address food waste as part of its initiative to establish a Food Smart City. 

The collaboration is analyzed using the collaborative governance regime framework. This study examines the criteria, driving factors, collaborative dynamics, and challenges of food waste management in Surakarta. A qualitative case study approach was employed, with data collected through semi-structured interviews and documentation. 

The findings reveal that the collaboration in food waste management in Surakarta meets the criteria of collaborative governance. The initiative was spearheaded by a non-governmental organization, Yayasan Gita Pertiwi. Collaborative activities include food sharing and the cultivation of Black Soldier Fly (BSF) maggot. Key stakeholders involved in the collaboration represent government, community, and private sectors.  The driving factors for collaboration include uncertainty, interdependence, and consequential incentives. The sustainability of the collaboration is influenced by interactive and iterative processes of the collaboration dynamics components: principled engagement, shared motivation, and the capacity for joint action. However, the collaboration process has some shortcomings, including unclear role distribution and commitments that tend to remain informal.  Additionally, the collaboration faces several challenges, such as unclear problem boundaries and cultural factors. These findings highlight the need for clearer role delineation, stronger formal commitments, the establishment of success indicators, and strategies to overcome cultural barriers to ensure the long-term success of food waste management in Surakarta.

Kata Kunci : Kota Cerdas Pangan, food waste, collaborative governance, collaborative governance regime, food sharing.

  1. S2-2025-525316-abstract.pdf  
  2. S2-2025-525316-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-525316-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-525316-title.pdf