Laporkan Masalah

Pengaruh Edukasi dan Pengembangan Program Automatic Stop Order "ASO-PED" terhadap Penggunaan Antibiotik pada Pasien Anak Rawat Inap di Rumah Sakit Kabupaten Temanggung

Heni Lutfiyati, Prof. Dr. apt. Zullies Ikawati; Dr. apt. Nanang Munif Yasin, M.Pharm; Prof. dr Jarir At Thobari, D.Pharm, Ph.D

2024 | Disertasi | S3 Ilmu Farmasi

Penggunaan antimikroba yang tidak rasional paling banyak ditemukan pada anak karena anak- mewakili populasi yang sering menerima. Salah satu penyebab utama penggunaan antimikroba tidak rasional adalah kurangnya pengetahuan tentang peresepan antimikroba oleh tenaga kesehatan. Oleh karena itu, edukasi merupakan fitur tulang punggung PPRA. Apoteker dapat berperan pada penghentian otomatis pemberian antibiotik (Automatic Stop Order). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh edukasi dan pengembangan aplikasi “ASO-PED” antibiotika terhadap penggunaan antibiotik. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain deskriptif. Pelaksanaan PPRA dikaji menggunakan kuesioner. Subyek penelitian tenaga Kesehatan. Teknik pengambilan data untuk mengkaji Penggunaan antibiotik pada anak secara retrospektif pada pasien anak rawat inap tahun 2021 dengan kriteria inklusi berusia 0-14 tahun dengan rekam medik lengkap. Intervensi yang dilakukan adalah edukasi dan aplikasi ASO-PED. Parameter yang dinilai untuk dampak edukasi adalah pengetahuan sikap dan praktek tentang penatagunaan antimikroba serta penggunaan antibiotik pada pasien anak rawat inap. Dampak implementasi ASO-PED dianalisis secara kuantitas menggunakan ATC/ DDD dan kualitas dengan kriteria Gyssens . Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis bivariat (t-test, Chi Square test, Mann Whitney test dan Wilcoxon test). Hasil studi menunjukkan PPRA sudah berjalan dengan baik di RS Kabupaten Temanggung. Sebagian besar tenaga kesehatan terlibat dalam menyusun kebijakan dan panduan umum penggunaan antimikroba di Rumah Sakit (81,48%). Apoteker terlibat bersama tim PPRA membuat kebijakan dan pedoman penggunaan antibiotika dan program kerja pengendalian resistensi (81,48%). Persepsi tenaga kesehatan terhadap hambatan dalam pelaksanaan PPRA adalah sarana prasarana (40,74%), pembiayaan (37,04%), pemahaman (11,11%) dan sumber daya manusia (7,41%). Edukasi mempengaruhi rasionalitas penggunaan antibiotik (p=0,000) dan sikap positif tenaga kesehatan dalam penatagunaan antimikroba (p=0,017). Implementasi ASO-PED mempengaruhi penggunaan antibiotik golongan aminoglikosida, sefalosporin dan penicillin (p=0,000). Aplikasi ASO-PED belum berfungsi optimal sehingga diperlukan sosialisasi manfaat penggunaan aplikasi ASO-PED terhadap klinisi dan melibatkan responden lebih besar untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat

Irrational Use of antimicrobial is most often found in pediatrics because pediatrics represents a population that usually receives them. Pediatric patients frequently receive antibiotic prescriptions with inappropriate daily doses and longer duration than needed. One of the main causes of irrational antimicrobial use is the lack of knowledge about antimicrobial prescribing by health professional. Therefore, education is a backbone feature of this program and one of the core elements of the Antimicrobial Stewardship Program (ASP). In ASP, pharmacists can play a role in automatically stopping antibiotics (Automatic Stop Order). The purpose of this study was to see the effect of education and development of the Automatic Stop Order "ASO-PED" antibiotic application. This study was conducted in 2 stages. The first stage examines the implementation of ASP and antibiotic use in pediatrics using descriptive methods and a cross-sectional approach. Retrospective data collection of medical records of hospitalized pediatric patients in 2019 at the Temanggung Regency Hospital. The second stage is the education and development of the ASO-PED application. And the implementation of ASO-PED using a quasi-experimental design. The analysis used was descriptive and bivariate (t-test, chi-square test, Mann-Whitney test and Wilcoxon test). The results showed that the involvement of respondents in ASP activities was to prepare policies and general guidelines for the use of antimicrobials in hospitals (81.48%). Pharmacists were involved with the ASP team in making policies and guidelines for the use of antibiotics and resistance control work programs (81.48%). The perceptions of health professional regarding obstacles in the implementation of ASP were infrastructure (40.74%), financing (37.04%), understanding (11.11%) and human resources (7.41%). The antibiotics most widely used for inpatient pediatric patients at Temanggung District Hospital were ceftriaxone, cefotaxime, and ampicillin. The use of antibiotics was irrational at 67.43% with 2.29?ing used too long. Education influenced the rationality of antibiotic use (p = 0.000) and the positive attitude of health workers toward antimicrobial stewardship (p = 0.017). Implementation of ASO PED affects the use of aminoglycoside, cephalosporin and penicillin antibiotics (p=0.000).The doctors involved were less responsive to notifications from pharmacists, so the ASO-PED application has not functioned optimally. It is necessary to socialize the benefits of using the ASO-PED application to clinicians and involve more respondents to get more accurate results.

Kata Kunci : Edukasi, Automatic Stop Order, Antibiotik, Anak

  1. S3-2024-450177-abstract.pdf  
  2. S3-2024-450177-bibliography.pdf  
  3. S3-2024-450177-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2024-450177-title.pdf  
  5. S3-2025-450177-abstract.pdf  
  6. S3-2025-450177-bibliography.pdf  
  7. S3-2025-450177-tableofcontent.pdf  
  8. S3-2025-450177-title.pdf