Daya Saing Biji Kakao Indonesia di Pasar Dunia
Krismiyati, Dr. Hani Perwitasari, S.P., M.Sc.; Arini Wahyu Utami, M.Sc., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Ekonomi Pertanian
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia, terutama sebagai penyedia lapangan pekerjaan dan sumber pendapatan negara (Kementan, 2022). Kakao diekspor ke beberapa negara karena digunakan sebagai bahan baku pembuatan produk lemak kakao, pasta kakao dan bubuk kakao sehingga permintaannya cukup tinggi. Penelitian ini mengkaji daya saing biji kakao Indonesia dan negara pesaing, tren daya saing biji kakao dan faktor-faktor yang memengaruhi nilai ekspor biji kakao Indonesia. Data yang digunakan adalah data panel dengan menggabungkan data time series dari tahun 2001-2022 dan data cross section 4 negara importir utama yaitu Malaysia, Amerika Serikat, Belanda dan Jepang. Alat analisis yang digunakan untuk mengevaluasi daya saing biji kakao yaitu Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symetric Comparative Advantage (RSCA) dan Export Competitiveness Index (XCI); sedangkan analisis tren digunakan untuk mengevaluasi tren daya saing; dan regresi panel digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi nilai ekspor biji kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya saing Indonesia dinilai masih rendah apabila dibandingkan dengan negara pesaing yaitu Pantai Gading, Ghana dan Ekuador; sementara tren daya saing Indonesia menunjukkan hasil yang negatif. Populasi negara pengimpor dan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah memiliki pengaruh yang positif; sedangkan jarak ekonomi dan keterbukaan perdagangan pengimpor memiliki pengaruh yang negatif terhadap nilai ekspor biji kakao Indonesia. Nilai ekspor biji kakao Inndonesia lebih tinggi ketika diterapkan kebijakan bea keluar biji kakao dan terjadi krisis finansial global. Sementara itu, nilai ekspor biji kakao Indonesia lebih rendah ketika terjadi pandemi COVID-19.
Cocoa (Theobroma cacao L.) is a plantation commodity that plays a vital role in the Indonesian economy, especially as a provider of employment and a source of state income (Kementan, 2022). Cocoa is exported to several countries because it is a raw material used to manufacture cocoa butter, cocoa paste, and cocoa powder products, so the demand is relatively high. This study examines the competitiveness of Indonesian cocoa beans and competitor countries, trends in cocoa bean
competitiveness, and factors affecting the export value of Indonesian cocoa beans. The data used is panel data by combining time series data from 2001-2022 and cross-section data from 4 major importing countries: Malaysia, the United States, the Netherlands, and Japan. The analytical tools used to evaluate the competitiveness of cocoa beans are Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA), and Export Competitiveness Index (XCI), while trend analysis is used to evaluate the trend of competitiveness. Panel regression is used to analyze the factors affecting cocoa beans' export value. The results show that Indonesia's competitiveness is still low compared to competitor countries, namely Côte d'Ivoire, Ghana, and Ecuador, while the trend of Indonesia's competitiveness shows negative results. The population of importing countries and the exchange rate of the United States dollar against the rupiah have a positive influence. In contrast, importers' economic distance and trade openness negatively influence the export value of Indonesian cocoa beans. The export value of Indonesian cocoa beans will be higher when the cocoa bean export duty policy is implemented, and the global financial crisis occurs. Meanwhile, the export value of Indonesian cocoa beans is lower when the COVID-19 pandemic occurs.
Kata Kunci : Biji Kakao, Data Panel, Daya Saing, Krisis Finansial Global, Kebijakan Bea Keluar