Ekstraksi Indikator Kerentanan Fisik Bangunan terhadap Longsor Menggunakan Data Point Cloud LiDAR
Ridho Baskara, Dr. Eng. Guruh Samodra, S.Si., M.Sc.; Dr. Taufik Hery Purwanto, S.Si., M.Si.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan
Penilaian kerentanan fisik bangunan terhadap longsor melalui
pendekatan indikator umumnya dilakukan menggunakan teknik sensus, seperti
survei lapangan atau interpretasi foto udara, yang memiliki sejumlah
keterbatasan. Teknik sensus memerlukan sumber daya waktu dan tenaga kerja yang
tinggi, sedangkan interpretasi foto udara berpotensi menghasilkan bias akibat
subjektivitas dalam analisis. Selain itu, pendekatan-pendekatan tersebut jarang
mempertimbangkan tingkat eksposur berupa intensitas longsor secara langsung.
Sebagai alternatif, penelitian ini mengusulkan pendekatan berbasis data point
cloud LiDAR airborne untuk memberikan hasil yang lebih efisien,
akurat, dan konsisten dalam mengidentifikasi indikator kerentanan bangunan,
sekaligus memperhitungkan tingkat eksposur berupa intensitas longsor.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengekstraksi indikator
kerentanan fisik bangunan dari data point cloud LiDAR airborne, (2)
menilai kerentanan fisik bangunan terhadap longsor dan (3) mengetahui
distribusi spasial kerentanan spesifik lokasi di ruas Jalan Salaman-Bener,
Kabupaten Magelang. Tahapan pengolahan meliputi akuisisi data LiDAR serta
pengolahan data point cloud menjadi Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan model 3D bangunan Level of Detail 2 (LoD2). Model
3D bangunan LoD2 digunakan untuk mendukung ekstraksi indikator kerentanan. Kerentanan
fisik bangunan (PV) dihitung menggunakan fungsi hubungan antara intensitas
longsor (I) dan ketahanan bangunan (R). Intensitas longsor dihitung berdasarkan
matriks hubungan volume dan kecepatan longsor. Indikator tipologi struktur
(R1), bentuk bangunan horizontal (R2) dan vertikal (R3), dan orientasi bangunan
(R4) digunakan untuk menilai ketahanan bangunan. Indikator jarak terhadap
sumber longsor (P) digunakan untuk menilai kerentanan spesifik lokasi (SSV).
Hasil analisis menunjukkan intensitas longsor di area penelitian masuk
dalam kategori "tinggi" dengan nilai I = 0,8 dan "sedang"
dengan nilai I = 0,4. Terdapat 98 bangunan di jalur lintasan run-out
longsor, sebanyak 33% masuk kelas kerentanan tinggi/III (kerusakan sangat berat
hingga total), 63% kelas sedang/II (kerusakan sedang-berat), dan 4% kelas rendah/I
(kerusakan ringan). Data point cloud LiDAR airborne terbukti
efektif dalam menilai kerentanan bangunan terhadap longsor dan model 3d LoD2 dapat
digunakan untuk mengekstraksi tipologi struktur (R1) dengan tingkat akurasi
interpretasi sebesar 88%. Temuan ini memberikan landasan ilmiah untuk
pengembangan strategi mitigasi yang lebih terukur dan berbasis data dalam upaya
mengurangi kerusakan bangunan akibat bahaya longsor, yang dapat berdampak
langsung pada keselamatan jiwa.
The assessment of building physical vulnerability to landslides
using indicator-based approaches is typically conducted through census
techniques, such as field surveys or aerial photo interpretation, which have
several limitations. Census techniques require significant time and labor
resources, while aerial photo interpretation is prone to bias due to subjective
analysis. Furthermore, these approaches rarely consider direct exposure levels,
such as landslide intensity. As an alternative, this study proposes an airborne
LiDAR point cloud-based approach to provide more efficient, accurate, and
consistent results in identifying building vulnerability indicators while
accounting for exposure levels in terms of landslide intensity.
The objectives of this study are to (1) extract building physical vulnerability
indicators from airborne LiDAR point cloud data, (2) assess building physical vulnerability
to landslides, and (3) analyze the spatial distribution of site-specific
vulnerability along the Salaman-Bener Road, Magelang Regency. The methodology
includes LiDAR data acquisition and processing to generate a Digital Terrain
Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), and Level of Detail 2 (LoD2) 3D
building models. The LoD2 3D building models support the extraction of
structural vulnerability indicators. Building physical vulnerability (PV) is
calculated using a relationship function between landslide intensity (I) and
building resistance (R). Landslide intensity is determined based on a matrix of
volume and velocity relationships. Structural typology (R1), horizontal (R2)
and vertical (R3) building shapes, and building orientation (R4) are used to
assess building resistance. Proximity to landslide sources (P) is used to
evaluate site-specific vulnerability (SSV).
The analysis results show that landslide intensity in
the study area is categorized as "high" (I = 0.8) and
"moderate" (I = 0.4). A total of 98 buildings are located within the
landslide run-out path, with 33% classified as high vulnerability (class III,
severe to total damage), 63% as moderate vulnerability (class II, moderate to
severe damage), and 4% as low vulnerability (class I, minor damage). Airborne
LiDAR point cloud data proved effective in assessing building vulnerability to
landslides, with LoD2 models achieving 88?curacy in structural typology (R1)
extraction. These findings provide a scientific basis for developing more
data-driven and measurable mitigation strategies to reduce building damage and
enhance life safety in landslide-prone areas.
Kata Kunci : Kerentanan fisik bangunan, intensitas longsor, LiDAR, LoD2