WOMEN'S STRUGGLE TO BREAK THE GLASS CEILING IN THE LEGAL PROFESSION IN THE FILM ON THE BASIS OF SEX (2018)
Zahra Kamila, Dr. Nur Saktiningrum, M. Hum.
2025 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN AMERIKA
<!--[if gte mso 9]><xml>
Perempuan menghadapi tantangan-tantangan ini melalui strategi hukum, pendidikan, dan kolaborasi. Ruth Bader Ginsburg menantang hukum yang bias gender, menggunakan preseden hukum untuk mempromosikan kesetaraan, dan secara strategis membangun kasus diskriminasi untuk mendapatkan kedudukan hukum. Pengalaman kuliahnya di Harvard Law School menunjukkan pentingnya pendidikan dalam memajukan karier perempuan. Selain itu, dukungan dari suaminya, Martin Ginsburg, menggambarkan peran panutan laki-laki dalam memperjuangkan kesetaraan gender.
Faktor individu, sosial budaya, dan organisasi berperan dalam perjuangan perempuan. Secara individu, keberanian, ketahanan, dan tekanan untuk membuktikan diri merupakan tantangan sekaligus kekuatan dalam menghadapi diskriminasi. Stereotip gender dan ekspektasi budaya membatasi peluang, sementara bias perekrutan dan hambatan institusional mempersulit kemajuan karier. Namun, ketekunan dan strategi yang tepat memungkinkan perempuan untuk mengatasi hambatan-hambatan ini.
Perjuangan ini memiliki dampak yang luas. Secara pribadi, ia memperkuat identitas profesional, ketahanan mental, dan hubungan sosialnya. Secara lebih luas, ia mendorong reformasi hukum, meningkatkan representasi perempuan di bidang hukum, dan mengubah standar gender. On the Basis of Sex menunjukkan bahwa tindakan hukum, pendidikan, dan upaya kolektif merupakan kunci dalam menciptakan profesi hukum yang lebih inklusif.
This research discusses women's struggle to break the glass ceiling in the legal profession as depicted in the movie On the Basis of Sex (2018). Using Gay Bryant's Glass Ceiling theory and John Rowe's Post-Nationalist perspective, this research highlights women's strategies, the factors that influence their struggles, and their impact on individuals and society.
Women faced these challenges through legal strategies, education, and collaboration. Ruth Bader Ginsburg challenged gender-biased laws, used legal precedents to promote equality, and strategically built discrimination cases for legal standing. Her college experience at Harvard Law School demonstrated the importance of education in advancing women's careers. In addition, the support of her husband, Martin Ginsburg, illustrates the role of male role models in the fight for gender equality.
Socio-cultural, organizational, and individual factors play a role in women's struggles. Individually, courage, resilience, and pressure to prove oneself are both challenges and strengths in the face of discrimination. Gender stereotypes and cultural expectations limit opportunities while hiring biases and institutional barriers make career advancement difficult. However, perseverance and the right strategies enable women to overcome these obstacles.
This struggle had a wide-reaching impact. Personally, she strengthened her professional identity, mental resilience, and social connections. More broadly, she pushed for legal reform, increased women's representation in the legal field, and changed gender standards. On the Basis of Sex shows that legal action, education, and collective efforts are key to creating a more inclusive legal profession.
Kata Kunci : Women’s Struggle, Glass Ceiling, On the Basis of Sex, Legal Profession