Variasi Genetik dan Hubungan Kekerabatan Tebu (Saccharum spp. hybrid) Berdasarkan Gen Kloroplas rbcL
Tiara Putria Judith, Ganies Riza Aristya, S.Si., M.Sc., Ph.D.
2025 | Skripsi | BIOLOGI
Tebu (Saccharum spp. hybrid) memiliki kompleksitas genom tinggi
yang menjadi tantangan besar dalam upaya pemuliaan untuk menghasilkan hibrida
unggul. Kompleksitas ini disebabkan oleh hibridisasi interspesifik
dan intergenerik antar kultivar tebu, yang melibatkan retensi genom leluhur dan
poliploidi selama proses evolusi. Kondisi tersebut menyebabkan terbatasnya
informasi mengenai variasi genetik dan kekerabatan pada kultivar tebu modern. Minimnya
informasi tersebut saat ini menghambat proses identifikasi sumber genetik
potensial dalam program pemuliaan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
variasi genetik dan jarak genetik berdasarkan karakterisasi genomic DNA barcode
rbcL, mengetahui hubungan filogeni kultivar tebu yang dibudidayakan di
Indonesia melalui analisis gen rbcL berdasarkan model evolusi Maximum
Likelihood dan Bayesian Inference, dan mengetahui pola filogeografi
melalui haplotype network dan PCoA berdasarkan gen rbcL antara kultivar
tebu budidaya Indonesia dan berbagai negara lain. Metode yang diterapkan
diantaranya isolasi DNA, uji kualitatif, uji kuantitatif, dan amplifikasi
melalui teknik Polymerase Chain Reaction. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa gen rbcL berhasil diamplifikasi dari 22 sampel tebu dengan panjang
1324 bp. Analisis hubungan kekerabatan dengan model evolusi ML dan BI
mengungkapkan bahwa sebagian besar sampel tebu budidaya memiliki kekerabatan
yang dekat dengan negara lain serta ditemukan potensi keunikan pada sampel BKS2, BKS7, OP3, NX04, Pringu, dan Kidang Kencana. Keunikan tersebut
didukung dengan persentase
mendekati 1% pada jarak genetik dan SNP ditemukan pada beberapa lokus. Haplotype
network dan PCoA memvisualisasikan jarak yang besar, membuktikan
adanya potensi keragaman genetik yang menjadikan sifat genetik asli tebu yang
dibudidayakan di Indonesia tetap dipertahankan.
Sugarcane (Saccharum
spp. hybrid) exhibits
a high level of genomic complexity, presenting significant challenges for
breeding efforts to develop superior hybrids. This complexity arises from
interspecific and intergeneric hybridization among sugarcane cultivars,
involving ancestral genome retention and polyploidy through evolutionary
processes. Consequently, information on genetic variation and relationship
among modern sugarcane cultivars is limited, creating obstacles for identifying
potential genetic resources for breeding programs in Indonesia. This
study aims to identify
genetic variation and genetic distance through the rbcL genomic DNA
barcode, elucidate the phylogenetic relationships of sugarcane cultivars
cultivated in Indonesia using the rbcL gene with Maximum Likelihood and
Bayesian Inference evolutionary models, and reveal phylogeographic patterns
through haplotype network and PCoA of the rbcL gene across sugarcane
cultivars from Indonesia and other countries. The methodologies applied include
DNA isolation, qualitative and quantitative assessments, and amplification
using the Polymerase Chain Reaction technique. The results revealed successful
amplification of the rbcL gene from 22 sugarcane samples with a length
of 1324 bp. Phylogenetic analysis using the ML and BI evolutionary models
demonstrated that most cultivated sugarcane samples were closely related to those
from other countries, while unique genetic traits was identified in the BKS2,
BKS7, OP3, NX04, Pringu, and Kidang Kencana samples. This uniqueness was
supported by a genetic distance percentage approaching 1% and the presence of SNPs
in several loci. Furthermore,
haplotype network and PCoA analyses visualized substantial genetic distances,
demonstrating the potential for genetic diversity and the preservation of native
genetic traits in sugarcane cultivated in Indonesia.
Kata Kunci : DNA barcoding, filogenetik, rbcL, tebu, variasi genetik