Penggunaan peta untuk evaluasi potensi perkebunan rakyat kabupaten Poso propinsi Sulawesi Tengah tahun 1989-1991
Agus Pamiji, Drs. Mas Sukoco, M.Sc.; Drs. Noorhadi Rahardjo,P.M.
1993 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUHKabupaten Posc merupakan Dati 11 yang terluas datar¬annya di Propinsi Sulawesi Tengah. Sebagian besar masya¬rakatnya mempunya matapencaharian dalam bidang pertanian, khususnya dalam bentuk usaha perkebunan. Untuk memantapkan swasembada pangan yang telah dicapai pada Pelita IV, kiranya pembangunan perkebunan perlu digiatkan. Usaha yang ditempuh oleh pemerintah daerah Tk. II Kabupaten Poso dala,m membangun perkebunan ialah dengan cara memperluas lokasi perkebunan rakyat. Untuk mencapai usaha tersebut Pemda Tk II Kabupaten Poso telah membuat peta rencana wilayah pengembangan komoditi pertanian (Peta RWPKP). Masalah yang timbul apakah wilayah perkebunan yang ada dan wilayah yang di-rencanakan oleh Pemda sudah sesuai dengan potensi fisik masing-masing jenis tanaman perkebunan yang ada di Kabu-paten Poso atau belum. Untuk menjawab permasalaham ter- sebut perlu dibuat peta potensi fisik dari masing-masing jenis tanaman perkebunan yang diandalkan di Kabupaten Poso. Metode yang digunakan untuk mengetahui potensi fisik masing-masing jenis tanaman perkebunan adalah dengan cara analisis peta karakteristik fisik, yakni peta keting¬gian, lereng, dan curah hujan. Dari hasil tumpang susun(Overlay) ketiga variabel fisik tersebut, selanjutnya dapat diketahui potensi fisik dari masing-masiffig jenis perkebunan untuk setiap unit lahan berdasarkan sistem pengharkatan. Evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kesesuai-an potensi fislk lahan perkebunan yang ada dengan rencana pengembangannya adalah, dilakukan dengan teknik menumpang susunkan antara peta sebaran perkebunan, peta RWPKP dengan peta potensi fisik yang dibuat dalam peneli¬tian ini. Setelah diadakan evaluasi dapat diketahui bahwa: (a) Ada kesesuaian antara sebaran perkebunan kelapa yang telah ada dengan rencana pengembangan yang dibuat oleh Pemda. Wilayan-wilayah tersebut memang mempunyai potensi fisik yang baik, sehingga produksinyapun tinggi. Wilayah yang direncanakan belum semuanya diusahakan untuk pengem¬bangan perkebunan kelapa. (b) Wilayah yang mempunyai unit lahan berpotensi baik untuk pengembangan perkebunan kopi setelah dilihat pada wilayah yang direncanakan untuk pengembangan perkebunan pada kenyataannya sempit. Sebaran wilayah perkebunan kopi yang telah ada umumnya merupakan areal yang potensi f£sik¬nya kurang baik sehingga produksinyapun rendah. (c) Perkebunan cengkeh yang telah ada ternyata menempati wilayah yang potensi fisiknya tergolong sedang, dan masih rendah produksinya. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebenarnya wilayah yang berpotensi fisik baik untuk pe¬ngembangan perkebunan cengkeh di Kab. Poso cukup luas, tetapi wilayah yang direncanakan oleh Pemda untuk pe¬ngembangan perkebunan hanya sempit saja, dan sebagian be¬sar justru merupakan wilayah yang kurang baik potensinya jika untuk pengembangan perkebunan cengkeh.
-
Kata Kunci : Penggunaan peta,Potensi perkebunan rakyat,Poso,Sulawesi Selatan