Merajut Makna di Usia Senja: Kesejahteraan Subjektif Lanjut Usia Terlantar di Panti Werdha Budhi Dharma
Niken Nahesti, Dr. Arum Febriani, S.Psi, M.A.
2025 | Tesis | S2 Psikologi
Kesejahteraan subjektif (subjective well-being) merupakan aspek penting bagi lansia yang dapat mencerminkan kepuasan hidup dan keseimbangan emosional mereka dalam menghadapi tantangan fisik, mental, serta sosial yang datang seiring penuaan. Penelantaran pada lansia dapat berdampak negatif pada kesejahteraan subjektif (subjective well-being) yang dapat berdampak pada kesejahteraan fisik dan mental, yang dapat menyebabkan stres, depresi, dan perasaan tidak berdaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna kesejahteraan subjektif pada lansia terlantar yang tinggal di Panti Werdha Budhi Dharma, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif untuk memahami pengalaman subjektif lansia terkait kesejahteraan mereka. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik photovoice dan wawancara, yang memungkinkan lansia untuk mengungkapkan perasaan mereka melalui foto dan cerita. Partisipan adalah lansia berusia 60-70 tahun yang berjumlah tiga orang. Data dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) melalui beberapa tahapan untuk menemukan tema-tema yang relevan. Hasil analisis menemukan tujuh tema utama yang menggambarkan perjalanan lansia menuju kesejahteraan subjektif, yaitu: pengalaman marginalisasi, penerimaan, spiritualitas, kebermanfaatan, keterhubungan, dukungan sosial, dan komunikasi serta kebijakan panti. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif lansia terbentuk melalui perjalanan yang kompleks, dimulai dari pengalaman marginalisasi yang mencakup penolakan keluarga dan kehilangan peran sosial. Refleksi diri dan penguatan spiritualitas membantu lansia mencapai penerimaan terhadap kondisi mereka. Selain itu, kebermanfaatan menjadi elemen penting dalam menciptakan rasa harga diri dan kebahagiaan. Interaksi sosial di panti serta dukungan dari teman sebaya dan pihak eksternal berperan dalam mengurangi kesepian dan membangun rasa keterhubungan. Penelitian ini memberikan gambaran tentang dinamika kesejahteraan lansia terlantar yang dapat menjadi landasan untuk mengembangkan kebijakan dan program yang lebih inklusif bagi mereka.
Subjective well-being is an important aspect for the elderly that can reflect their life satisfaction and emotional balance in facing physical, mental, and social challenges that come with aging. Neglect in the elderly can have a negative impact on subjective well-being which can have an impact on physical and mental well-being, which can cause stress, depression, and feelings of helplessness. This study aims to explore the meaning of subjective well-being in neglected elderly living in Panti Werdha Budhi Dharma, Yogyakarta. This study uses an interpretive phenomenological approach to understand the subjective experiences of the elderly related to their well-being. The method used is qualitative with photovoice and interview techniques, which allow the elderly to express their feelings through photos and stories. Participants were three elderly aged 60-70 years. The data were analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) through several stages to find relevant themes. The results of the analysis found seven main themes that describe the elderly's journey towards subjective well-being, namely: experiences of marginalization, acceptance, spirituality, usefulness, connectedness, social support, and communication and policies of the shelter. The findings of this study indicate that the subjective well-being of the elderly is formed through a complex journey, starting from the experience of marginalization that includes family rejection and loss of social roles. Self-reflection and strengthening of spirituality help the elderly achieve acceptance of their condition. In addition, usefulness is an important element in creating a sense of self-esteem and happiness. Social interaction in the shelter as well as support from peers and external parties play a role in reducing loneliness and building a sense of connectedness. This study provides an overview of the dynamics of the well-being of neglected elderly which can be a basis for developing more inclusive policies and programs for them.
Kata Kunci : Lansia, Lansia terlantar, Kesejahteraan Subjektif, Photovoice, Panti Werdha, Elderly, Neglected Elderly, Subjective Well-Being