Analisis Perubahan Pola Curah Hujan dan Penggunaan Lahan terhadap Kerawanan Banjir Temporal di Kabupaten Purworejo
Tesya Paramita Putri, Dr. rer. nat. Arry Retnowati, S.Si., M.Sc.;Bayu Dwi Apri Nugroho, S.TP., M.Agr., PhD;
2025 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati
dinamika
pola spasial kerawanan banjir temporal akibat perubahan pola curah hujan dan pola penggunaan lahan menggunakan Model Maximum Entrophy
(MaxEnt). Kerawanan banjir dinilai
dengan 12 variabel lingkungan diantaranya elevasi, kemiringan lereng, arah
hadap lereng, kelengkungan lereng, Topographic Wetness Index (TWI),
kerapatan aliran, jarak dari sungai, jarak dari jalan, tekstur tanah, agregat
tanah, curah hujan, dan penggunaan lahan. Curah hujan dan penggunaan lahan
merupakan variabel dinamis yang dianalisis pada tahun 2013-2023 dan
diprediksikan pada tahun 2024-2033. Titik kejadian banjir masa lampau diperoleh
dengan metode Partisipatory GIS (PGIS). Penilaian kerawanan banjir
dengan mempertimbangkan variabel dinamis seperti curah hujan dan penggunaan
lahan sangat penting dalam penentuan strategi mitigasi banjir.
Pola curah hujan mengalami perubahan
yang dipengaruhi oleh fenomena La Nina dan kondisi topografi wilayah. Penggunaan
lahan secara signifikan mengalami perubahan yaitu penurunan luas pada ladang
dan semak belukar serta mengalami peningkatan pada tambak dan lahan terbuka. Kerawanan banjir dikelaskan menjadi 5 kelas dengan
luasan rata-rata: sangat
rendah (56%), rendah (9%), sedang (13%), tinggi (17%), dan sangat tinggi (5%).
Tingkat kerawanan banjir sedang hingga tinggi membentuk pola yang mendominasi
wilayah bagian selatan. Perubahan
pola curah hujan memiliki pengaruh yang lebih besar (5,98%) terhadap dinamika tingkat kerawanan sedang hingga sangat tinggi dibandingkan dengan
perubahan penggunaan lahan (0,44%). Elevasi, TWI dan jarak dari sungai adalah
variabel dominan yang
berkontribusi pada sebaran pola kerawanan
banjir. Akurasi Model
MaxEnt untuk prediksi kerawanan banjir tergolong sangat baik dengan nilai AUC>0,8.
Arahan strategi mitigasi
banjir mempertimbangkan hasil penelitian dan respon masyarakat. Upaya mitigasi
struktural dan non struktural dirumuskan dengan Kerangka DSPIR yang telah
disesuaikan dengan waktu penerapannya. Mitigasi jangka pendek diarahkan pada penerapan kegiatan teknis darurat dan
peningkatan kapasitas masyarakat, 2) mitigasi jangka menengah difokuskan pada penataan infrastruktur pengendali
banjir dan pengendalian tata ruang, 3) mitigasi banjir jangka panjang pengelolaan sumber daya air terintegrasi. Arahan strategi
mitigasi banjir di prioritaskan di Kecamatan Grabag, Ngombol, Butuh, Purwodadi, Bagelen dan Pituruh
dengan tingkat kerawanan banjir tinggi.
This study aims to observe the dynamics of
spatial patterns of temporal flood vulnerability due to changes in rainfall
patterns and land use patterns using the Maximum Entrophy (MaxEnt) Model. Flood
vulnerability is assessed by 12 environmental variables including elevation,
slope, aspect, curvature, Topographic Wetness Index (TWI), drainage density,
distance from river, distance from road, soil texture, soil aggregate,
rainfall, and land use. Rainfall and land use are dynamic variables analyzed in
2013-2023 and predicted in 2024-2033. Historical flood points were obtained
using the Participatory GIS (PGIS) method. Flood vulnerability assessment by
considering dynamic variables such as rainfall and land use is very important
in determining flood mitigation strategies.
Rainfall patterns have changed, influenced by La
Nina phenomena and the topography of the region. Land use has significantly
changed, namely a decrease in the area of fields and shrubs and an increase in
ponds and open land. Flood vulnerability is classified into 5 classes with an
average area: very low (56%), low (9%), medium (13%), high (17%), and very high
(5%). Moderate to high flood vulnerability levels form a pattern that dominates
the southern region. Rainfall patterns changes have a greater influence (5.98%)
on the dynamics of moderate to very high vulnerability levels than land use
changes (0.44%). Elevation,TWI and distance from river are the dominant
variables that contribute to the distribution of flood vulnerability patterns.
The accuracy of the MaxEnt Model for flood vulnerability prediction is very
good with an AUC value of >0.8.
The flood mitigation strategy direction
considers the research results and community responses. Structural and
non-structural mitigation efforts are formulated with the DSPIR Framework that
has been adjusted to the time of implementation. Short-term mitigation is
directed at implementing emergency technical activities and increasing
community capacity, 2) medium-term mitigation is focused on structuring flood
control infrastructure and spatial control, 3) long-term flood mitigation is
integrated water resources management. Flood mitigation strategies are
prioritized in Grabag, Ngombol, Butuh, Purwodadi, Bagelen and Pituruh
sub-districts with high flood vulnerability.
Kata Kunci : Banjir, curah hujan, penggunaan lahan, MaxEnt, DPSIR, Purworejo/Flood, rainfall, land use, MaxEnt, DPSIR, Purworejo