Kuantifikasi Keberagaman Endosimbion Bemisia tabaci pada Tanaman Terinfeksi Begomovirus di Dataran Tinggi dan Dataran Rendah
Amanda Eka Lupita, Dr. Ir. Arman Wijonarko, M.Sc; Alan Soffan S.P., M.Sc., Ph.D
2025 | Tesis | S2 Ilmu Hama Tumbuhan
Bemisia tabaci merupakan
salah satu hama utama pada tanaman hortikultura karena kemampuannya sebagai
vektor Begomovirus. Selain fungsinya dalam menularkan virus, serangga ini juga
diketahui memiliki hubungan simbiotik dengan berbagai jenis bakteri
endosimbion, yang berpotensi memengaruhi efektivitas penularan virus tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi komposisi serta jumlah salinan (copy
number) DNA bakteri endosimbion (Portiera, Wolbachia, dan Arsenophonus)
serta Begomovirus pada B. tabaci yang berasal dari ekosistem dataran
tinggi dan dataran rendah, serta mengkaji keterkaitan antara keberadaan
endosimbion dengan tingkat infeksi virus. Sampel dikumpulkan dari
tanaman cabai dan terung di 12 lokasi di Yogyakarta. Deteksi molekuler
dilakukan dengan PCR konvensional dan kuantifikasi absolut menggunakan qPCR
berbasis kurva standar. Hasil menunjukkan bahwa Portiera merupakan
endosimbion paling dominan, diikuti oleh Arsenophonus dan Wolbachia.
Jumlah salinan Arsenophonus dan Wolbachia secara signifikan lebih
tinggi pada dataran tinggi. Begomovirus juga cenderung lebih tinggi di dataran
tinggi, meskipun tidak signifikan. Hasil ini mengindikasikan adanya pengaruh
faktor lingkungan terhadap keberadaan endosimbion dan potensi transmisi virus
oleh vektor.
Bemisia tabaci is one of the major pests of
horticultural crops due to its ability to act as a vector for Begomovirus. In
addition to its role in virus transmission, this insect is also known to have
symbiotic associations with various endosymbiotic bacteria, which may influence
the efficiency of virus transmission. This study aimed to evaluate the
composition and DNA copy number of endosymbiotic bacteria (Portiera, Wolbachia,
and Arsenophonus) as well as Begomovirus in B. tabaci populations
from highland and lowland ecosystems, and to assess the relationship between
endosymbiont presence and virus infection levels. Samples were collected from
chili and eggplant plants across 12 locations in Yogyakarta. Molecular
detection was performed using conventional PCR, and absolute quantification was
carried out using standard curve-based qPCR. The results showed that Portiera
was the most dominant endosymbiont, followed by Arsenophonus and Wolbachia.
The copy numbers of Arsenophonus and Wolbachia were significantly
higher in highland regions. Begomovirus levels also tended to be higher in
highland areas, although not statistically significant. These findings indicate
the influence of environmental factors on the presence of endosymbionts and the
potential for virus transmission by the vector.
Kata Kunci : Bemisia tabaci, Begomovirus, endosimbion, qPCR, dataran tinggi dan rendah/Bemisia tabaci, Begomovirus, endosymbiont, qPCR, highland and lowland.