Laporkan Masalah

Prevalensi dan Faktor Risiko Babesiosis pada Sapi Potong di Kabupaten Bantul

Muji Lestari, drh. Heru Susetya, M.P., Ph.D. ; Prof. Dr. drh. Joko Prastowo, M.Si.

2025 | Tesis | S2 Sain Veteriner

Babesiosis merupakan penyakit parasit darah yang menyebabkan anemia hemolitik, hemoglobinuria, penurunan produksi dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi pada peternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur prevalensi berdasarkan pemeriksaan apus darah dan molekuler serta menganalisis faktor risiko babesiosis di Kabupaten Bantul. Penelitian dilakukan menggunakan kajian lintas seksional dengan metode random sampling tahapan ganda yang dilakukan pada bulan Juli-September 2024. Sebanyak 175 sampel darah diambil dari vena jugularis pada 45 peternakan, dengan estimasi prevalensi 10,5?n tingkat kepercayaan 95%. Sampel darah diperiksa secara mikroskopis menggunakan pewarnaan Giemsa 10?n pengujian molekuler dengan Polymerase Chain Reaction. Data faktor risiko dikumpulkan melalui observasi dan wawancara pada peternak, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan SPSS. Hasil pemeriksaan apus darah menunjukkan 32 sampel positif Babesia sp (18,28%), dan 63 sampel positif terhadap pengujian PCR (36,00%). Hasil analisis bivariat menunjukkan faktor risiko yang berasosiasi signifikan (p<0 OR=0,435) OR=11,818), OR=7,186) OR=4,490).>

Babesiosis is a blood parasite disease that causes hemolytic anemia, hemoglobinuria, decreased production, and can result in economic losses for farmers. This study aimed to measure the prevalence based on blood smear and molecular examinations and analyze the risk factors for babesiosis in Bantul Regency. The research was conducted using a cross-sectional study with a two-stage random sampling method carried out from July to September 2024. A total of 175 blood samples were collected from the jugular veins of cattle on 45 farms, with an estimated prevalence of 10.5% and a 95% confidence level. Blood samples were examined microscopically using 10% Giemsa staining and molecularly tested using Polymerase Chain Reaction (PCR). Risk factor data were collected through observation and interviews with farmers and analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analysis with SPSS. The blood smear examination results showed 32 samples positive for Babesia sp. (18.28%), and 63 samples were PCR-positive (36.00%). Bivariate analysis revealed that risk factors significantly associated (p<0 OR=0.435) OR=0.300). OR=11.818), OR=7.186), OR=4.490). OR=7.186), OR=5.552), OR=14.870), OR=13.602) OR=0.315)>

Kata Kunci : babesiosis, faktor risiko, Polymerase Chain Reaction, prevalensi

  1. S2-2025-509829-abstract.pdf  
  2. S2-2025-509829-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-509829-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-509829-title.pdf