Mati Ditengah Sumbu FIlosofi: Kajian Etnografi Kritis tentang Kelas Sosial Prekariat dibalik Hingar Bingar Kota Istimewa
Lucia Yerinta Destishinta, Dr. Realisa Darathea Massardi, M.A
2025 | Tesis | S2 Antropologi
Tidak mudah hidup dalam suatu lingkungan yang tanpa sadar menghegemoni pemikiran masyarakat secara kolektif. Berbagai upaya untuk melahirkan kesadaran, seakan ditumbangkan oleh keadaan, manakala nilai-nilai yang telah dianut hanya dimaknai secara dogmatis. Hal ini yang dialami oleh warga lokal di Yogyakarta secara luas, dan secara spesifik yang tinggal dalam wilayah yang memiliki irisan langsung dengan Sumbu Filosofi. Wacana yang telah bertransformasi menjadi agenda pembangunan dengan atas nama budaya, kian dilanggengkan dengan legitimasi pemimpin dengan dalih pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal. Stigma yang melekat dan dikenal luas oleh orang-orang bahwa Yogyakarta adalah kota berhati nyaman. Ragam slogan kenyamanan yang senantiasa digaungkan untuk menumbuhkan kesadaran semu bahwa masyarakat Yogyakarta adalah kelompok masyarakat yang damai dan tentram, tanpa perlu memiliki kesadaran kritis akan perlawanan apabila terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan spirit kehidupan sebagai manusia.
Penelitian ini berusaha untuk memberikan pemaparan secara deskriptif mengenai cara pandang berbeda dalam melihat pembangunan pada Sumbu Filosofi di Yogyakarta, serta perspektif kritis dalam mengkaji sebuah fenomena tentang pembangunan dalam nilai-nilai filosofis yang akhir-akhir ini makin gencar digaungkan. Harapan awal, akan ada rangkaian narasi yang terbangun hingga upaya yang dilakukan oleh warga untuk bertahan dalam menghadapi gempuran pembangunan dalam agenda revitalisasi Sumbu Filosofi. Setting penelitian ini dilakukan di Kampung Ngupasan dan Teras Malioboro serta sepanjang kawasan Malioboro. Sedangkan informan penelitian adalah warga Kampung Ngupasan dengan rentang usia 25-65 tahun. Secara metodologis, pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, studi literatur dan observasi terhadap lingkungan penelitian.
Hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa adanya nilai-nilai dalam budaya Jawa yang dimaknai dengan tidak tepat secara turun-menurun, membuat orang-orang menjadikan hal tersebut suatu kebenaran. Kemudian, dengan adanya budaya yang menghegemon, menjadikan kekuasaan bersembunyi dibalik nilai-nilai kultural, menjadikan nalar kritis yang diperlukan dalam menggugat kebijakan yang timpang menjadi padam. Sumbu Filosofi sebagai bentuk impelementasi dari nilai-nilai kosmologi jawa kemudian berubah menjadi sebatas komoditi belaka. Seakan tameng dalam pembangunan sebagai alasan kuat dalam melakukan revitalisasi dengan upaya mengembalikan sumbu filosofi seperti semula. Ada bias makna dalam melihat Sumbu Filosofi sebagai peninggalan sejarah yang dikembalikan seperti bentuk semula, sebab pertumbuhan manusia dan dinamika sebuah wilayah yang dinamis menjadikan banyak orang yang bertempat-tinggal dan memiliki mata pencaharian dalam kawasan Sumbu Filosofi tersebut menjadi termarjinalkan sebab adanya keterputusan jaringan, baik secara ekonomi maupun sosial. Perbedaan respon yang dipengaruhi oleh basis pengetahuan serta pola jaringan menjadikan bentuk adaptasi yang berbeda; sebagian menerima dan sisanya melawan. Disamping itu, adanya perbedaan dalam kompensasi memengaruhi kapital tiap-tiap individu dalam merespon adanya relokasi sebagai upaya bertahan hidup.
It’s never be easy to live in an environment that unconsciously hegemonies the collective thinking of society. Various efforts to create awareness seem to be overthrown by circumstances, when the values that have been adopted are only interpreted dogmatically. This is what is experienced by local residents in Yogyakarta in general, and specifically those who live in areas that have a direct intersection with the Philosophical Axis. The discourse that has transformed into a development agenda in the name of culture, is increasingly perpetuated by the legitimacy of leaders under the pretext of preserving culture and developing tourism based on local wisdom. The stigma that is attached and widely known by people that Yogyakarta is a city with a comfortable heart. Various slogans of comfort that are always echoed to foster false awareness that the people of Yogyakarta are a peaceful and serene group of people, without the need to have a critical awareness of resistance if something happens that is not in accordance with the spirit of life as a human being. This study attempts to provide a descriptive explanation of a different perspective in viewing development on the Philosophical Axis in Yogyakarta, as well as a critical perspective in examining a phenomenon about development in philosophical values that has recently been increasingly echoed. The initial expectation was that there would be a series of narratives that were built up to the efforts made by residents to survive in the face of the onslaught of development in the Sumbu Filosofi revitalisation agenda. The setting of this research was carried out in Ngupasan Village and Teras Malioboro and along the Malioboro area. Meanwhile, the research informants were residents of Ngupasan Village with an age range of 25-65 years. Methodologically, the approach used was qualitative, data collection was carried out through in-depth interviews, literature studies and observations of the research environment. The findings in the field showed that there were values in Javanese culture that were interpreted incorrectly from generation to generation, making people make this a truth. Then, with the existence of a hegemonic culture, making power hide behind cultural values, making the critical reasoning needed to challenge unequal policies extinguished. Sumbu Filosofi as a form of implementation of Javanese cosmological values then turned into a mere commodity. As if a shield in development as a strong reason for carrying out revitalisation with efforts to restore the axis of philosophy as before. There is a bias in seeing the Philosophical Axis as a historical relic that has been restored to its original form, because human growth and the dynamics of a dynamic region have marginalised many people who live and have livelihoods in the Philosophical Axis area due to the disconnection of networks, both economically and socially. Differences in response influenced by the knowledge base and network patterns create different forms of adaptation; some accept and the rest resist. In addition, differences in compensation affect the capital of each individual in responding to relocation as an effort to survive.
Kata Kunci : Revitalisasi, Relokasi, Keterputusan Sosial, Sumbu Filosofi, Hegemoni, Kapital