Analisis Stakeholder dalam Pengelolaan Cagar Alam Gunung Picis Kabupaten Ponorogo
MOH RIZKY ALAMSYAH, Ir. Kristiani Fajar Wianti, S.Hut., M.Si., IPM.
2025 | Skripsi | KEHUTANAN
Cagar Alam Gunung Picis di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, adalah kawasan konservasi dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dan menjadi habitat elang jawa. Namun, banyak masyarakat yang belum mengetahui status konservasi elang jawa dan keanekaragaman hayati. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk mengadopsi pendekatan yang lebih inklusif dan partisipatif dalam pengelolaan. Analisis stakeholder menjadi salah satu pendekatan yang dapat digunakan dengan cara mengidentifikasi, memetakan, serta mendeskripsikan peran dan hubungan dari tiap stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan Cagar Alam Gunung Picis.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, Teknik pengambilan data menggunakan observasi, wawancara mendalam (indepth interview), dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model analisis Reed et al. (2009) yaitu dengan matriks kepentingan dan pengaruh stakeholder, matriks hubungan aktor, dan deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap stakeholder memiliki peran strategis dan saling berhubungan dalam pengelolaan Cagar Alam Gunung Picis. Penelitian ini mengidentifikasi sembilan stakeholder yang dikelompokkan berdasarkan kepentingan dan pengaruhnya, menjadi key player yakni BBKSDA Jatim dan Pemerintah Desa Gondowido; subject yakni pemerintah Desa Pupus, pemerintah Desa Talun, dan unsur masyarakat di Desa Gondowido, Pupus, dan Talun; Context setter yakni Polsek Ngebel dan Perum Perhutani; serta crowd adalah Koramil Ngebel dan pemerintah Kecamatan Ngebel. Implikasi praktis penelitian menyoroti perlunya penguatan kapasitas masyarakat lokal serta peningkatan koordinasi antar lembaga guna mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
The Gunung Picis Nature Reserve in Ponorogo Regency, East Java, is a conservation area with high biodiversity and serves as a habitat for the Javan hawk-eagle (Nisaetus bartelsi). However, public awareness regarding the conservation status of the Javan hawk-eagle and the area's biodiversity remains low. This underscores the need for a more inclusive and participatory approach to management. Stakeholder analysis is one such approach, involving the identification, mapping, and description of the roles and relationships of stakeholders involved in the management of the Gunung Picis Nature Reserve.
This study employs a qualitative approach, utilizing data collection techniques such as observation, in-depth interviews, and document analysis. Data analysis follows the model proposed by Reed et al. (2009), which includes stakeholder interest and influence matrices, actor relationship matrices, and qualitative descriptive analysis.
The findings reveal that each stakeholder plays a strategic and interconnected role in the management of the Gunung Picis Nature Reserve. The study identifies nine stakeholders grouped based on their interests and influence:key players, comprising East Java Natural Resources Conservation Agency (BBKSDA Jawa Timur) and the Gondowido Village Government; subjects, including the governments of Pupus Village and Talun Village, along with community representatives from Gondowido, Pupus, and Talun Villages; context setters, represented by Ngebel Police Department and Perum Perhutani; and the crowd, encompassing Ngebel Military Command and the Ngebel Sub-district Government. The practical implications of the study highlight the need to strengthen local community capacities and enhance inter-agency coordination to support more effective and sustainable conservation area management.
Kata Kunci : BBKSDA Jatim, Ngebel, kolaborasi, sumber mata air, masyarakat; BBKSDA Jatim, Ngebel, collaboration, water springs, community