JOGJA DARURAT SAMPAH: Menjelajahi Pemilahan Sampah Mahasiswa Pro-Lingkungan UGM
PRAMESTI PUTRI MAHARANI, Dr. Elan Lazuardi, S.Ant., M.A.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Kisruhnya pengelolaan sampah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menarik saya untuk mencoba melihat permasalahan dengan sudut pandang antropologis yang lebih holistik. Permasalahan sampah yang tak kunjung usai tersebut menjadi isu mendesak yang menuntut partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah, termasuk praktik pemilahan dari sumbernya. Mahasiswa pro-lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) diidentifikasi sebagai kelompok dengan akses pendidikan dan kesadaran lingkungan yang tinggi, sehingga berpotensi menjadi pelopor dalam praktik pemilahan sampah berkelanjutan. Hal ini yang kemudian memantik keresahan saya untuk mengeksplorasi soal pengelolaan sampah dengan fokus praktik pemilahan sampah pada mahasiswa pro-lingkungan UGM.
Keseluruhan proses penelitian ini berlangsung selama kurang lebih 6,5 bulan, bermula pada Desember 2023 dengan observasi selama 3 bulan dan penelitian di lapangan selama 3,5 bulan sampai dengan awal Juli 2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi ‘orang dalam’ yang data primernya saya himpun dari wawancara semi-terstruktur dan observasi dengan bantuan transect walk pada 8 orang mahasiswa pro-lingkungan UGM, perwakilan DLH Provinsi DIY, perwakilan Direktorat Aset UGM, dan 4 petugas kebersihan UGM. Selain itu, saya juga menggunakan data sekunder dari sumber-sumber pustaka yang sudah ada seperti buku, jurnal, artikel, laman berita, tulisan populer, media sosial, video digital, dan lain-lain.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa agensi pro-lingkungan informan yang terbentuk melalui pengalaman, pendidikan, dan relasi sosial, memungkinkan mereka untuk menegosiasikan hambatan struktural dalam pengelolaan sampah. Meskipun struktur pengelolaan sampah DIY seringkali mengekang praktik pemilahan sampah para informan, sebagian informan dapat menempuh solusi alternatif untuk tetap mempraktikkan pemilahan sampah, sementara sebagian lainnya masih terjerat oleh struktur yang mengekang. Interaksi dinamis antara agensi dan struktur ini menghasilkan variasi praktik pemilahan sampah yang tergantung pada agensi masing-masing individu untuk menegosiasikan permasalahan yang ada.
<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_250114_100959_756.sdocx-->
The chaotic waste management in the Special Region of Yogyakarta Province attracted me to try to see the problem from a more holistic anthropological perspective. The unending waste problem has become an urgent issue that demands community participation in waste management, including sorting practices from the source. Universitas Gadjah Mada (UGM) environmentalist students are identified as a group with high levels of educational access and environmental awareness, making them potential pioneers in sustainable waste sorting practices. This then sparked my concern to explore the issue of waste management with a focus on waste sorting practices among UGM environmentalists students
The whole research process lasted for approximately six and a half months, starting in December 2023 with observation for 3 months and research in the field for 3 months until July 2024. This research uses an insider ethnographic approach whose primary data I collected from semi-structured interviews and observations with the help of transect walks with 8 UGM environmentalist students, representatives of DLH DIY Province, representatives of the UGM Directorate of Assets, and 4 UGM janitors. In addition, I also used secondary data from existing literature sources such as books, journals, articles, news pages, popular writings, social media, digital videos, and others.
The research findings indicate that the pro-environmental agency of the informants, shaped through their experiences, education, and social relations, enables them to negotiate structural barriers in waste management. Although the waste management structure in DIY often restricts the informants' waste sorting practices, some informants are able to pursue alternative solutions to continue practicing waste sorting, while others remain constrained by the restrictive structure. The dynamic interaction between agency and structure results in a variation of waste sorting practices, dependent on each individual's agency in negotiating the existing challenges.
Kata Kunci : pemilahan sampah, mahasiswa pro-lingkungan, praktik sosial