BEYOND EXPLOITATION: CONSTRUCTING GOOD WORK IN THE LIVES OF UNDOCUMENTED INDONESIAN MIGRANTS IN AMSTERDAM, THE NETHERLANDS
Mahshushah, Dr. Realisa Darathea Masadi, S.Ant., MHRD.
2025 | Tesis | S2 Antropologi
Tesis ini mengeksplorasi pengalaman mendalam pekerja migran
Indonesia tanpa dokumen di Amsterdam, dengan fokus pada kemampuan mereka untuk
memandang pekerjaan yang distigmatisasi sebagai pekerjaan yang bermartabat.
Migrasi Indonesia telah berkembang dari pemindahan paksa selama masa kolonial
Belanda menjadi migrasi sukarela yang didorong oleh faktor ekonomi pada era
pasca-kemerdekaan. Sementara migrasi resmi diatur oleh lembaga
seperti Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), migrasi tanpa
dokumen menghadirkan tantangan unik. Belanda, sebuah negara yang tidak termasuk
dalam daftar prioritas BP2MI, telah muncul sebagai tujuan penting bagi migran
Indonesia tanpa dokumen, menyoroti berbagai pendorong dan strategi migrasi.
Penelitian ini mengkaji tiga dimensi penting
dari pengalaman migrasi mereka. Pertama, perjalanan dimulai dengan pendorong
ekonomi seperti pengangguran, utang, dan ketidakstabilan keuangan, serta
pengaruh sosial seperti hubungan keluarga dan teman. Para migran menggunakan
strategi mulai dari bergantung pada agen hingga memanfaatkan izin kerja
Schengen. Kedua, studi ini menggali stigma "pekerjaan kotor" yang
ditandai dengan pencemaran fisik, sosial, dan moral. Tantangan seperti mendapatkan tempat tinggal dan pekerjaan memperburuk
kerentanan mereka. Namun, dimensi ketiga mengubah pandangan mereka terhadap
pekerjaan sebagai “pekerjaan baik”, dengan menekankan elemen seperti upah
layak, otonomi, keseimbangan kerja-hidup, perlakuan hormat dari pemberi kerja,
dan nilai sosial-emosional, termasuk kesinambungan budaya dan aspirasi untuk
masa depan yang lebih baik.
Dengan menggunakan pendekatan etnografi yang
melibatkan wawancara mendalam dan observasi partisipatif, studi ini menangkap
ketahanan dan martabat yang dimiliki para pekerja ini dalam menjalani
keberadaan mereka yang rentan. Dengan menantang narasi dominan yang hanya
berfokus pada eksploitasi, temuan ini mengungkap bagaimana migran Indonesia
tanpa dokumen membangun makna dan kepuasan dalam pekerjaan mereka, meskipun
menghadapi stigma sosial dan pengecualian hukum. Temuan ini tidak hanya
memperkaya diskursus akademik tentang migrasi tanpa dokumen tetapi juga
menyoroti perlunya kebijakan inklusif yang mengakui dan melindungi martabat
semua pekerja.
Tesis ini pada akhirnya berpendapat bahwa
martabat dalam bekerja tidak hanya ditentukan oleh status hukum atau persepsi
masyarakat, tetapi secara aktif dibangun melalui ketahanan dan pencarian tujuan
dalam menghadapi kesulitan. Kisah para pekerja ini menantang gagasan
konvensional tentang "pekerjaan kotor" dan mendefinisikannya ulang
sebagai kontribusi yang penting dan bernilai bagi lanskap tenaga kerja global.
Kata kunci: Pekerja migran Indonesia tanpa dokumen, pekerjaan kotor, pekerjaan baik,
migrasi, Amsterdam
This thesis explores the nuanced experiences of undocumented
Indonesian migrant workers in Amsterdam, focusing on their capacity to perceive
stigmatized labor as dignified work. Indonesian migration has evolved from
forced displacement during Dutch colonial rule to voluntary economic-driven
migration in the post-independence era. While official migration is regulated
by agencies like Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI),
undocumented migration presents unique challenges. The Netherlands, a country
absent from BP2MI's prioritized destinations, has emerged as a notable location
for undocumented Indonesian migrants, highlighting distinct migration drivers
and strategies.
The research examines three critical dimensions of their migration
experience. First, the journey begins with economic drivers such as
unemployment, debt, and financial instability, alongside social influences like
family and peer connections. Migrants employ strategies ranging from reliance
on agents to leveraging Schengen work permits. Second, the study delves into
the stigma of “dirty work”, characterized by physical, social, and moral taint.
Challenges such as securing housing and employment exacerbate their
vulnerability. However, the third dimension reframes their work as “good work”,
underscoring elements like decent pay, autonomy, work-life balance, respectful
employer treatment, and social-emotional value, including cultural continuity
and aspirations for a better future.
Using an ethnographic approach involving in-depth interviews and
participant observation, this study captures the resilience and dignity with
which these workers navigate their precarious existence. By challenging
dominant narratives that focus solely on exploitation, the findings illuminate
how undocumented Indonesian migrants construct meaning and fulfillment in their
labor, despite societal stigma and legal exclusion. These insights not only
enrich the academic discourse on undocumented migration but also highlight the
necessity for inclusive policies that recognize and protect the dignity of all
workers.
This thesis
ultimately argues that dignity in labor is not merely dictated by legal status
or societal perceptions but is actively constructed through resilience, agency,
and the pursuit of purpose in the face of adversity. These workers' stories
challenge conventional notions of “dirty work” and redefine it as an essential
and valuable contribution to the global labor landscape.
Kata Kunci : Keywords: Undocumented Indonesian Migrant workers, dirty work, good work, Migration, Amsterdam