Dinamika kegiatan usaha ekonomi non pertanian di kota sekunder-sekunder sebelum dan sesudah integrasi ke kota Yogyakarta
Titit Lestari, Drs. Irfan Yahya, M.S.; Drs. R. Rijanta, M.Sc.
1997 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHPenelitian ini dilakukan di Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo. Pada tahun 1992 di daerah ini diresmikan pemakaian jembatan yang menghubungkan Desa Kembang dengan Yogyakarta secara langsung. Sebelum dibangun jembatan, penduduk Desa Kembang yang akan pergi ke Yogyakarta harus melalui rute Kembang-Sentolo-Yogyakarta dengan jarak 17 km lebih jauh dibanding rute sekarang. Pembangunan jembatan memperpendek rute perjalanan ke Yogyakarta dengan melalui Godean. Jarak yang lebih dekat antara Kembang-Yogyakarta menyebabkan hubungan antara Kembang-Yogyakarta lebih intensif. Hubungan yang semakin intensif antara Kembang-Yogyakarta akan mempengaruhi keadaan sosial ekonomi penduduk Desa Kembang. Keadaan ini yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian dengan judul "Dinamika Kegiatan Usaha di Kota Sekunder Sebelum dan Sesudah Integrasi ke Kota Yogyakarta: Kasus Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, Propinsi DIY". Tujuan penelitIan ini adalah untuk mengetahui perubahan kegiatan perdagangan (jenis dan volume) di Desa Kembang antara tahun 1992 - 1996, perubahan luas daerah pengaruh Desa Kembang akibat adanya aksesibilitas yang tinggi, dan perubahan pola mobilitas penduduk antara tahun 1992 - 1996. Metode yang digunakan adalah survei dan observasi untuk memperoleh data primer dan data sekunder yang kemudian dianalisa dengan menggunakan analisa rangkaian waktu (time series). Analisa ini dimaksudkan untuk melihat perkembangan kegiatan usaha ekonomi non pertanian di Desa Kembang tahun 1992 dan 1996. Dinamika kegiatan usaha ekonomi non pertanian dikatakan berkembang jika terdapat pertumbuhan pada kegiatan tersebut. Hasii penelitian menunjukkan bahwa kegiatan perdagangan selama kurun waktu 4 tahun mengalami pertumbuhan rata¬rata per tahun sebesar 0,16. Pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor jasa disusul kegiatan perdagangan bukan makanan. Kegiatan perdagangan bahan makanan mengalami penurunan dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar -0,04. Terdapat juga perubahan pola mobilitas dari mobilitas sirkuler menjadi komutasi. Sebesar 30,25 % responden yang melakukan komutasi sekarang ini telah melakukan mobilitas sirkuler pada waktu sebelum jembatan beroperasi. Alasan yang dikemukakan bahvva mereka merubah pola mobilitasnya adalah karena kemudahan sarana transportasi yang ada sekarang akibat aksesibilitas Desa Kernbang yang semakin tinggi. Aksesibilitas yang semakin tinggi juga berpengaruh terhadap semakin meluasnya daerah pengaruh Desa Kembang saat ini yaitu meluas ke arah sebelah timur Sungai Progo. Kondisi Desa Kembang yang semakin berkembang saat ini memerlukan kebijakan pemerintah untuk pengembangan desa ini, yatu mempertahankan dan meningkatkan fasilitas pelayanan, mewaspadai kecenderungan kenaikan harga lahan, peningkatan iklim usaha yang mendukung kegiatan usaha ekonomi non pertanian, serta peningkatan kepedulian lingkungan karena Desa Kembang selain sebagai kawasan strategis juga merupakan kawasan lindung (berbatasan langsung dengan Sungai Progo).
-
Kata Kunci : Usaha ekonomi non pertanian,Nanggulan,Kulonprogo,DIY