Perundingan New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) Amerika Serikat dan Rusia
RAFFI AMMAR PUTRA PRIMARSA, Drs. Muhadi Sugiono, M.A.
2024 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Penelitian
ini menganalisis perundingan New Strategic Arms Reduction Treaty (New START)
antara Amerika Serikat dan Rusia serta dampaknya terhadap kebijakan pengurangan
senjata nuklir kedua negara. New START, yang ditandatangani pada tahun 2010,
memiliki peran penting dalam membatasi jumlah senjata nuklir strategis dan
mencegah perlombaan senjata yang tidak terkendali. Amerika Serikat dan Rusia,
sebagai dua negara dengan stok senjata nuklir terbesar di dunia, menggunakan
perjanjian ini untuk menjaga stabilitas strategis dan mengurangi risiko konflik
melalui mekanisme verifikasi dan transparansi.
Penelitian
ini menunjukkan bahwa meskipun New START berhasil mencapai beberapa tujuan,
seperti pengurangan hulu ledak dan peningkatan transparansi, perjanjian ini
juga menghadapi tantangan, terutama dalam hal adaptasi terhadap perkembangan
teknologi dan perubahan geopolitik. Ketegangan antara Amerika Serikat dan
Rusia, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina, mempersulit dialog dan
negosiasi lebih lanjut untuk memperpanjang perjanjian setelah 2026. Selain itu,
dinamika global seperti kebijakan luar negeri dan tekanan internasional turut
memengaruhi efektivitas perjanjian ini.
Melalui metode penelitian kualitatif, studi ini mengidentifikasi bahwa New START berperan dalam menjaga keseimbangan kekuatan dan stabilitas global, meskipun tantangan ke depan, seperti perlunya adaptasi terhadap teknologi baru dan ketegangan politik, tetap perlu diatasi untuk memastikan kelanjutan pengendalian senjata nuklir.
This study analyzes
the New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) negotiations between the
United States and Russia and its impact on their nuclear arms reduction
policies. Signed in 2010, New START plays a crucial role in limiting the number
of strategic nuclear weapons and preventing an uncontrolled arms race. As the
two nations with the largest nuclear stockpiles, the U.S. and Russia utilize
this treaty to maintain strategic stability and reduce the risk of conflict
through verification and transparency mechanisms.
The study
finds that while New START has achieved several objectives, such as reducing
warheads and increasing transparency, the treaty faces challenges, particularly
in adapting to technological advancements and geopolitical shifts. Tensions
between the U.S. and Russia, especially following Russia’s invasion of Ukraine,
have complicated dialogue and further negotiations to extend the treaty beyond
2026. Additionally, global dynamics, including foreign policy and international
pressure, influence the treaty's effectiveness.
Through
qualitative research methods, the study concludes that New START contributes to
maintaining a balance of power and global stability, though future challenges,
such as adapting to new technologies and political tensions, must be addressed
to ensure the continuation of nuclear arms control.
Kata Kunci : New START, pengendalian senjata nuklir, Amerika Serikat, Rusia, stabilitas strategis, perlombaan senjata.