Laporkan Masalah

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG EKSKRETA AYAM UNTUK MENINGKATKAN KANDUNGAN NUTRIEN SLUDGE BIOGAS SEBAGAI BAHAN MEDIA JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus florida)

Yudi Rahmadian, Prof. Dr. Ir. SuharjonoTriatmojo, MS.; Ir. Ambar Pertiwingrum, M.Si., Ph.D.

2015 | Skripsi | S1 PETERNAKAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung ekskreta ayam pada sludge biogas feses sapi potong sebagai bahan campuran dedak pada media jamur tiram terhadap kandungan nutrien sludge dan media jamur serta produktivitas jamur tiram yang dihasilkan. Sludge biogas dikeringkan dibawah sinar matahari selama 3 hari sampai berbentuk menyerupai tanah. Selanjutnya dibagi menjadi 3 sehingga didapatkan K tanpa penambahan tepung ekskreta, V1 dengan penambahan tepung ekskreta (15%), dan V2 (45%). Selanjutnya V1 dan V2 dicampurkan kedalam bahan penyusun mediah jamur dengan kontrol media jamur (dedak 10% dengan penambahan sludge 40 gram) dan dilakukan sebanyak 3 ulangan. Masing-masing perlakuan diuji kandungan kimianya meliputi kadar air, bahan organik, serat kasar, C-organik, N-total, P-total, K-total, dan rasio C/N. Parameter yang diamati antara lain mulai umur panen, berat segar, jumlah tudung, panjang tangkai dan diameter tudung. Data diuji menggunakan analisis variansi acak lengkap pola searah dan perbedaan rata-rata diuji menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan paling baik yaitu pada media jamur V2 dengan penambahan sludge dan tepung ekskreta ayam (45%) yang kandungan nutriennya meningkat pada variabel karbon organik, bahan organik, nitrogen, P2O5, dan K2O serta produktivitas jamur tiram yang dihasilkan meningkat pada variabel berat segar sebesar 35,92%, diameter tudung sebesar 24,46%, Jumlah tudung sebesar 63,53%, dan panjang tangkai sebesar 24,15%. (Kata kunci: sludge sapi potong, tepung ekskreta ayam, jamur tiram putih)

The aim of this research was to determine the addition of the chicken feces meal on the sludge biogas of the beef cattle feces as bran mixture on the white oyster mushroom media of the sludge biogas nutrient, mushroom media, and the white oyster mushroom productivity. The biogas sludge was dried under the sunlight for 3 days. The sludge was divided into K without chicken feces meal, V1 with the addition of the chicken feces meal (15%), and V2 with the addition of the chicken feces meal (45%). V1 and V2 were mixed on media ingridients with oyster media control (10% bran with sludge 40 gram ) of 3 replication. Each treatment was tested with chemical analysis (water content, organic matter, crude fiber, C-organic, N-matter, P-matter, K-matter, and C/N ratio). Parameters observed were harvesting period, fresh weight per champignon, number of umbrella per cluster, stalk length, and diameter of umbrella. The data were analyzed using completely randomized design of variance pattern and differences between mean were tested using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). The result showed that the best treatment was mushroom media on V2 with the addition of the chicken feces meal (45%) with nutrient increased on the organic matter, C-organic, N-matter, P2O5, and K2O. The white oyster mushroom productivity was increased on the fresh weight per champignon of 35,92% and diameter umbrella of 24,46%, number of umbrella per cluster of 63,53%, and stalk length of umbrella of 24,15%. (Key words: beef cattle sludge, chicken feces meal, white oyster mushroom)

Kata Kunci : sludge sapi potong, tepung ekskreta ayam, jamur tiram putih


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.