Evaluasi pengembangan komoditi panili di Desa Tonusu Kecamatan Pamona Utara Kabupaten Poso
TOBONDO, Daniel, Dr. Masykur Wiratmo, MSc
2004 | Tesis | Magister Ekonomika PembangunanEmpat masalah pokok yang dihadapi sebagian besar masyarakat Desa Tonusu yang sempat teridentifikasi yakni: pemilikan sawah per kk semakin sempit, harga cengkih yang tidak menjanjikan, sumberdaya alam (kayu dan rotan) yang semakin langka dan penyerobotan kawasan cagar alam menjadi kebun. Masalah tersebut yang melatarbelakangi penelitian ini untuk mencari solusi pemecahannya bila mungkin melalui pengembangan tanaman panili. Tujuan penelitian adalah untuk mengukur tingkat kelayakan serta tingkat kepekaan dalam usaha pengembangan tanaman panili di desa Tonusu. Tiga aspek yang dianalisis yakni aspek teknis, aspek pasar dan aspek keuangan. Hasil penelitian menunjukan, dari aspek teknis kondisi iklim dan lahan di desa ini amat sesuai untuk budidaya panili. Dari aspek pasar, permintaan panili lebih tinggi dibanding penawarannya terutama sejak tahun 2002 yang tercermin pada peningkatan harga dari Rp100.000/kg basah pada tahun 2002 menjadi Rp350.000/kg basah pada bulan juli 2004. Selanjutnya dari aspek keuangan dengan menggunakan asumsi harga jual panili Rp30.000/kg basah, tingkat bunga sebesar 18%/tahun, pada akhir tahun kedua belas diperoleh NPV sebesar Rp242.587.249; IRR = 63,39%; B/C = 7,35; DPP = 4 tahun 8,16 bln ; BEP harga = Rp4.175; BEP Produksi = 5.177 kg; serta tingkat kepekaan berkisar antara 88,76% sampai 11.367,98%. Oleh karena itu dari ketiga aspek yang dinilai komoditi panili sangat layak untuk dikembangkan.
Four main problems faced by large part of society in Tonusu Village that has been identified are: ownership of rice field per head of household become narrower, cloves price not promising, natural resources (wood and rattan) become scarce and cut the nature preserve area become plantation. The problems are the background of this research to obtain solutions, if posibble, through vanilla’s development. The objectives of this research are to measure feasibility level and sensitivity level in vanilla’s development in Tonusu Village. The three aspects valued are technical aspect, market aspect and financial aspect. Findings show that from technical aspect, climate and land condition of this village is most suitable for vanilla cultivation. From market aspect, vanilla demand is higher than its supply especially since 2002 that is reflected from the price rising from Rp 100,000/kg wet in 2002 to Rp 350,000/kg wet in July 2004. Further, from financial aspect using assumption of vanilla sale price is Rp 30,000/kg wet, interest is 18%/year, in the end of twelfth year, the NPV will be Rp 242,587,249; IRR = 63.39%; B/C = 7.35; DPP = 4 years 8.16 months; BEP price = Rp 4,175; production BEP = 5,177 kg; and sensitivity level will be ranged from 88.76% to 11,367.98%. Therefore from the three aspects valued, vanilla commodity is very feasible to developed.
Kata Kunci : Komoditi Panili,Pengembangan, vanilla cultivation