Kami Harus Mengetahui Apa Kepercayaanmu: Studi Etnografi tentang Peran Agama terhadap Diskriminasi yang Terjadi di Dusun Kebandingan, Kabupaten Tegal
DINDA APRILLIA SAFERA, Dr. Sita Hidayah, S.Ant., M.A.
2024 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Diskriminasi
merupakan masalah umat manusia yang marak terjadi nyaris di berbagai belahan
dunia. Terjadinya diskriminasi acap kali mengacu pada tindak kekerasan. Di
Dusun Kebandingan, diskriminasi yang terjadi merupakan wujud dari kekerasan
budaya dan kekerasan struktural, yang ditandai dengan penggunaan tafsir agama
untuk melegitimasi tindakan diskriminasi terhadap individua tau kelompok yang
tidak sesuai dengan norma dan tradisi mayoritas. Di samping itu, jika dilihat
lebih lanjut, diskriminasi yang terjadi di Dusun Kebandingan juga berhubungan
dengan adanya kekerasan struktural yang tercermin pada kesenjangan ekonomi dan
ketidakmerataan pendidikan. Penelitian ini dilakukan di Dusun Kebandingan pada
4 Juni—16 Juni 2024, dengan melibatkan informan seperti tokoh agama setempat,
kepala madrasah, pengurus masjid, pengurus IPNU IPPNU Kebandingan, anggota IPNU
IPPNU Kebandingan, serta individu yang mengalami diskriminasi.
Melalui penelitian etnografi dan kerangka pemikiran Johan Galtung, penelitian ini mencoba mendiskusikan bagaimana interpretasi agama Islam (NU) di Dusun Kebandingan menjadi dasar legitimasi di masyarakat atas perilaku diskriminasi yang mengarah pada kekerasan budaya, serta bagaimana faktor strukrural juga turut menjadi penyebabnya. Hasil penelitian menunjukkan diskriminasi di Dusun Kebandingan muncul melalui dominasi tafsir agama, yang mana norma-norma keagamaan dijadikan standar perilaku yang harus diikuti oleh seluruh masyarakat yang tinggal di Dusun Kebandingan. Selain itu, keterbatasan ekonomi memperparah ketimpangan akses terhadap pendidikan formal dan rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, membentuk pola pikir masyarakat yang homogen dan dogmatis reaksioner, sehingga menjadi laiknya simpul yang sulit diputus.
Discrimination
is a pervasive issue affecting humanity, occurring frequently across nearly
every part of the world. Instances of discrimination often involve acts of
violence. In Dusun Kebandingan, the discrimination present manifests as a
formof cultural violence and structural violence, characterised by the use of
religious interpretations to legitimise discriminatory actions against
individuals or groups that do not conform to the norms and tradiyions of the
majority. Furthermore, when examined more closely, the discrimination in Dusun
Kebandingan is also linked to structural violence, as reflected in economic
disparities and unequal access to education. This research was conducted in
Dusun Kebandingan from 4 June to 16 June 2024, involving informants such as
local religious leader, the head of the madrasah, mosque administrators,
officials from IPNU IPPNU Kebandingaan, members of IPNU IPPNU Kebandingan, and
individuals who have experienced discrimination.
Through ethnographic research and the theoretical framework of Johan Galtung, this study seeks to discuss how the interpretation of Islam (NU) in Dusun Kebandingan serves as a basis for legitimising discriminatory behaviours within the community, which lead to cultural violence, as well as how structural factors contribute to these issues. The findings of the study reveal that discrimination in Dusun Kebandingan arises through the dominance of religious interpretation, where religious norms are imposed as standards of behaviour that must be adhered to by the entire community. Additionally, economic constraints exacerbate inequlities in access to formal education and the community’s low awareness of the importance of education, fostering a homogeneous and dogmatic-reactionary mindset, making it a tightly bound knot that is difficult to untangle.
Kata Kunci : diskriminasi, kekerasan budaya, kekerasan struktural, interpretasi agama