Studi mataair di daerah kabupaten Grobogan dan Blora Jawa Tengah
Sudaryatno, Drs. Soenarso Simoen
1991 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANKekurangan air terutama airtanah pada musim kemarau, merupakan suatu masalah pokok yang harus segera dipecah¬kan di daerah kabupaten Grobogan dan Blora. Salah satu penyebabnya adalah batuan penyusun yang terdiri atas batuan sedimen terutama marl (napal), dan sebagian gamping Miosen, Pliosen, Pleistosen mempunyai permea¬bilitas yang kecil sehingga airtanah sukar diperoleh. Untuk mencukupi kekurangan air ini banyak penduduk yang memanfaatkan air dari mataair yang terdapat di kedua wilayah tersebut. Umumnya pemunculan mataair-mataair ini berasosiasi dengan sesar ataupun kekar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari hubungan antara litologi, sesar, dan kekar dengan luah (debit) dan agihan mataair di daerah Kabupaten Grobogan dan Blora. Cara yang dipergunakan untuk mencari hubungan ter¬sebut adalah dengan analisa diskriptif dari data : luah, suhu, DHL pada masing-masing mataair dengan memperhati¬kan litologi, sesar, dan kekar serta hasil analisa kua¬litas air di laboratorium. Dari hasil analisa menunjukkan bahwa jumlah luah pada batuan gamping akan lebih besar daripada jumlah luah pada batuan napal dan gamping, yaitu sebesar 294,1 1/dt (dengan 22 mataair),sedang pada batuan napal dan gamping sebesar 113,5 1/dt (dengan 43 mataair). Kerapat¬an agihan mataair dan ratio perbandingan luah terhadap luas batuan pada batuan gamping lebih padat dan lebih besar yaitu sebesar 0,138/kmz dan 1,184 1/dt/km2 sedang pada batuan napal dan gamping sebesar 0,028km2 dan 0,075 1/dt/km2. Ratio perbandingan panjang rekahan ter¬hadap luas batuan dengan luah mataair yang dihasilkan pada batuan gamping adalah sebesar: 0,52 km/km2 dengan jumlah luah 87,2 1/dt (Jatipohon),0,38 km/km2 dengan jumlah luah 108,4 1/dt (Tamabakrejo), dan pada batuan napal dan gamping sebesar: 0,17 km/km2 dengan jumlah luah 8,5 1/dt (Kedungbanteng), 0,26 km/km2 dengan jumlah luah 83,7 1/dt (Panunggalan), 0,24 km/km2 dengan jumlah luah 11 1/dt (Randublatung).Sedang jumlah luah pada batuan yang tidak dipengaruhi rekahan adalah sebesar 14,5 1/dt (Tanggungharjo) dan 7,5 1/dt (Termas).Untuk keperluan air minum dari ke 10 sampel air mataair yang diaambil unsur-unsur kimia C1-, SO4-2, Fe total dan mg+z masih di bawah syarat yang dianjurkan pemerintah. Curah hujan di daerah penelitian tidak menunjukkan perbedaan yang kontras. Pengaruh curah hujan terhadap luah mataair adalah dalam jumlah imbuh air. Dengan demikian terdapat keterkaitan antara lito-logi, sesar dan kekar dengan luah dan agihan mataair di daerah penelitian. Mataair pada batuan gamping akan mempunyai jumlah luah yang lebih besar daripada jumlah luah pada batuan napal dan gamping. Pemunculan mataair¬mataair tersebut terutama pada batuan gamping akan meng¬ikuti sesar dan kekar.
-
Kata Kunci : Mata air,Grobogan,Blora,Jawa Tengah