Laporkan Masalah

Black Panther (2018) dan Wakanda Forever (2022): Counternarrative Tata Kelola Global Kontemporer

Hana' Fairuz Akbar Lubis, Dr. Suci Lestari Yuana, MIA

2024 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional

Penelitian ini menganalisis bagaimana sekuel film Black Panther berpotensi sebagai narasi alternatif dalam dominasi yang telah langgeng mengenai tata kelola global yang didominasi oleh definisi dari Immanuel Wallerstein dan Johan Galtung. Struktur tata kelola global ini berakar pada sistem kapitalis dan memiliki struktur hirarkis negara-negara core, semi-periphery, dan periphery. Berbeda dengan Wakanda yang tidak bergabung pada struktur hirarkis dengan melakukan isolasionisme ekstrim. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan bagaimana tata kelola global yang ditawarkan Wakanda dan apakah tata kelola Wakanda dapat menjadi narasi alternatif antara center dan periphery dalam struktur hierarkis tata kelola global. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Hasilnya, tata kelola Wakanda tidak dapat menggantikan definisi yang telah langgeng. Hal ini disebabkan karena terdapat beberapa kesamaan dalam elemen tata kelola kontemporer dan tata kelola Wakanda, yaitu penggambaran negara center, akumulasi tak berkesudahan, dan kekerasan struktural. Selain itu, terdapat juga keterbatasan yang dialami sang direktor dalam berimajinasi (bounded imaginaries) yang dibatasi oleh interaksi sosial.

This research analyzes how the Black Panther film sequel has the potential to serve as an alternative narrative to the enduring dominance of global governance dominated by the definitions of Immanuel Wallerstein and Johan Galtung. This global governance structure is rooted in the capitalist system and has a hierarchical structure of core, semi-periphery, and periphery countries. In contrast, Wakanda does not join the hierarchical structure by practicing extreme isolationism. This research departs from the question of how global Wakanda offers governance and whether Wakanda governance can be an alternative narrative between the center and periphery in the hierarchical structure of global governance. This research uses descriptive qualitative methods. As a result, Wakanda's governance cannot replace enduring definitions. This is because there are some similarities in the elements of contemporary governance and Wakanda governance, namely the depiction of the center state, endless accumulation, and structural violence. In addition, the director experienced limitations (bounded imaginaries) in limited by social interactions.

Kata Kunci : Black Panther, Budaya Populer, Tata Kelola Global

  1. S2-2024-512418-abstract.pdf  
  2. S2-2024-512418-bibliography.pdf  
  3. S2-2024-512418-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2024-512418-title.pdf