Laporkan Masalah

IMPLEMENTASI PROGRAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEUNGGULAN KOMPETITIF USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) DI KABUPATEN GIANYAR

Ida Bagus Putu Armada, Dr. Suripto

2024 | Tesis | S2 Administrasi Publik

Hasil observasi di lapangan masih terdapat berbagai permasalahan dalam implementasi program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UKM antara lain keterbatasan akses modal dikarenakan UKM sering kali mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses permodalan sebelum dan bahkan sesudah pandemi covid-19. Kondisi ekonomi yang tidak stabil dan pengetatan kredit dari lembaga keuangan membuat UKM sulit untuk mendapatkan pinjaman atau modal tambahan untuk menjalankan usahanya serta minimnya partisipasi dari para pelaku UKM, dikarenakan pelaku UKM kurang berpartisipasi dalam pelaksanaan program, dimana masih terdapat pelaku UKM yang belum mengetahui adanya program yang dibuat oleh Dinas KUKM Kabupaten Gianyar.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mengetahui bagaimana pelaksanaan program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UKM dalam industri kain tenun endek di Desa Keramas.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Keramas Kabupaten Gianyar.

Hasil penelitian yang didapat bahwa implementasi program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UKM di Kabupaten Gianyar belum berhasil sepenuhnya. Dikarenakan indikator keberhasilan seperti kepuasan stakeholder dan keberlanjutan belum bisa tercapai. Indikator yang berhasil hanya efisiensi penggunaan sumber daya. Walaupun belum berhasil sepenuhnya, tujuan dari program tersebut sudah dapat tercapai sesuai dengan teori Edward III. Dimana pelaku UKM sudah bisa memasarkan produknya dengan memanfaatkan e-commerce seperti marketplace, sehingga produk mereka bisa dijual secara luas, tidak hanya di Bali saja tetapi semua orang yang berada di luar Bali bisa membeli produk mereka tanpa harus datang ke Bali. Kemudian pelaku UKM juga sudah bisa menjaga kualitas produknya, sehingga bisa bersaing dengan produk kain tenun endek yang ada di kabupaten/kota lainnya yang ada di Bali. Walaupun sudah bisa dikatakan berhasil tetap saja masih terdapat kendala. Pertama, akses peminjaman modal yang belum terlaksana dengan baik, dikarenakan masih kurang dalam memberikan informasi serta belum adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas. Kedua, partisipasi masyarakat atau pelaku UKM yang masih kurang, dikarenakan tidak mendapatkan informasi serta berbenturan dengan kegiatan keagamaan. Ini semua dipengaruhi oleh faktor komunikasi, disposisi, dan struktur birokrasi yang belum efektif.

Field observations reveal persistent challenges in the implementation of the entrepreneurship development programme and the enhancement of the competitive advantage for small and medium enterprises (SMEs). These issues include limited access to capital, as SMEs often face difficulties in securing funding both prior to and following the COVID-19 pandemic. Economic instability and tightened credit policies by financial institutions have further restricted SMEs from obtaining loans or additional capital to sustain their operations. Moreover, the participation of SMEs remains low, largely due to a lack of awareness about the programmes initiated by the Gianyar Regency Cooperative and SME Office.

The objective of this study is to explore and understand the implementation of the entrepreneurship development programme and the enhancement of SMEs' competitive advantage, specifically in the endek woven fabric industry in Keramas Village.

This research employs a descriptive qualitative methodology, with data collection techniques encompassing observation, interviews, and documentation. The study was conducted in Keramas Village, Gianyar Regency.

The findings indicate that the implementation of the entrepreneurship development programme and the enhancement of SMEs' competitive advantage in Gianyar Regency has not yet been fully successful. Key indicators of success, such as stakeholder satisfaction and sustainability, remain unmet. The only indicator that has been achieved is the efficient utilisation of resources. Despite this, the programme's goals align with Edward III’s implementation theory, as SMEs have been able to market their products via e-commerce platforms such as marketplaces. This enables their products to reach a broader audience, not only within Bali but also beyond, allowing customers from outside Bali to purchase without needing to visit the island. Additionally, SMEs have successfully maintained product quality, enabling them to compete with other endek woven fabric products across various regencies and cities in Bali.

However, challenges persist. To begin with, access to capital loans remains inadequately addressed due to insufficient dissemination of information and the absence of a clear Standard Operating Procedure (SOP). Furthermore, SME participation remains low, often hindered by a lack of information or conflicts with religious activities. These challenges are influenced by factors such as ineffective communication, disposition, and bureaucratic structure.

Kata Kunci : Implementasi Kebijakan, Usaha Kecil dan Menengah, Indikator Keberhasilan Implementasi

  1. S2-2024-490556-abstract.pdf  
  2. S2-2024-490556-bibliography.pdf  
  3. S2-2024-490556-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2024-490556-title.pdf