Preferensi Petani Agroforestri dan Birokrat Pemerintah Daerah Terkait Strategi Adaptasi Perubahan Iklim di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
Sabila Nabichati Musyafa, Ir. Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D. IPU.; Prof. Dr. Ir. Budiadi, S.Hut., M.Agr.Sc., IPU.
2024 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan
Dampak perubahan iklim berupa semakin panjangnya kekeringan di pulau-pulau kecil mendorong pentingnya petani beradaptasi terhadap cara lahan dikelola, memilih jenis tanaman, dan atau mengandalkan penghidupan berbasis non pertanian. Namun, upaya adaptasi terhadap kekeringan masih belum banyak dikaji khususnya yang berkaitan dengan pilihan strategi yang mendesak dilakukan oleh petani dan pengambil kebijakan di daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pilihan strategi adaptasi yang mendesak (urgent) dilakukan oleh petani dan staf pemerintah daerah dan faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan petani dalam menghadapi kekeringan di Kabupaten Sumbawa.
Pendekatan utama penelitian ini menggunakan metode survei. Data kuantitatif dikumpulkan dari 50 petani hutan rakyat di desa Pelat dan Batudulang dan 24 staf birokrat Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Data yang dikumpulkan berupa tingkat urgensi terhadap 15 pilihan strategi yang dikelompokkan menjadi tiga strategi, yaitu: penyesuaian tanaman, manajemen lahan pertanian, dan manajemen non-pertanian. Melalui instrumen kuesioner tertutup dan semi-terstruktur, responden diwawancarai untuk menilai tingkat urgensi strategi tersebut, pengetahuan, nilai dan norma terhadap perubahan iklim dan kondisi sosio-demografi. Data dianalisis menggunakan analisis statistik uji Mann-WhitneyU dan analisis CHAID dan analisis kualitatif deskriptif untuk memperkaya informasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani masih menilai tingkat urgensi beradaptasi terhadap perubahan iklim lebih rendah dibandingkan staf pemerintah kabupaten, meskipun beberapa pilihan strategi tidak berbeda signifikan. Pemerintah daerah dan petani memiliki kesamaan pandangan pada strategi penyesuaian tanaman dan manajemen lahan pertanian. Karakteristik sosio-demografi (pendidikan, pendapatan, luas kepemilikan lahan, dan jumlah vegetasi non kayu pada lahan), sikap, norma subyektif, dan persepsi kontrol perilaku berkaitan dengan probabilitas petani memilih strategi adaptasi. Penelitian ini memberikan saran pentingnya prioritas perencanaan pembangunan daerah berbasis adaptasi iklim dan peningkatan kapasitas petani agroforestri melalui penyuluhan dengan memperhatikan karakteristik sosio-demografi dan variabel planned behaviour petani agroforestri terhadap perubahan iklim.
The impact of climate change, such as prolonged droughts on small islands, underscores the importance of farmers adapting their land management practices, selecting appropriate crop types, or relying on non-agricultural livelihoods. However, adaptation efforts to address drought remain under-researched, particularly concerning the urgent strategies required by farmers and local policymakers. This study aims to analyse the urgent adaptation strategies needed by farmers and local government officials, as well as the factors influencing farmers' choices in coping with drought in Sumbawa Regency.
The study primarily employs a survey method. Quantitative data were collected from 50 agroforestry farmers in Pelat and Batudulang villages and 24 bureaucratic staff from the Sumbawa Regency Government. The collected data include the urgency levels of 15 adaptation strategy options, grouped into three categories: crop adjustment, farmland management, and non-agricultural management. Using closed-ended and semi-structured questionnaires, respondents were interviewed to assess the urgency of these strategies, their knowledge, values, and norms regarding climate change, and socio-demographic conditions. The data were analysed using Mann-Whitney U statistical tests, CHAID analysis, and descriptive qualitative analysis to enrich the findings.
The results show that farmers perceive the urgency of adapting to climate change as lower compared to government staff, although some strategy options do not show significant differences. The local government and farmers share similarities in their views on crop adjustment and farmland management strategies. Socio-demographic characteristics (education, income, land ownership, and amount of non-timber vegetation on the land), attitudes, subjective norms, and perceived behavioural control are associated with the probability of farmers selecting adaptation strategies. This study highlights the importance of prioritising climate adaptation-based regional development planning and enhancing the capacity of agroforestry farmers through extension programs that consider their socio-demographic characteristics and planned behaviour variables towards climate change.
Kata Kunci : Perubahan iklim, kekeringan, strategi adaptasi, agroforestri, kebijakan kehutanan