Analisis Biaya Pengobatan Malaria pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Abepura Kota Jayapura, Provinsi Papua
Maya Dwi Wulan Sari, Prof. Dr. apt. Tri Murti Andayani, Sp.FRS. ; Dr. apt. Dwi Endarti, M.Sc.
2024 | Tesis | Magister Manajemen Farmasi
Latar Belakang : Malaria di wilayah endemis Jayapura memiliki dampak terhadap hilangnya produktivitas masyarakat dan meningkatkan beban finansial. Tujuan : Mengetahui besaran biaya pengobatan malaria dan pengaruh karakteristik pasien (sosiodemografi dan penyakit) terhadap beban biaya pada pasien rawat inap di RSUD Abepura berdasarkan perspektif societal. Metode : Observasional analitik dengan desain studi cross-sectional dan bottom-up. Data pasien rawat inap malaria dikumpulkan secara retrospektif di RSUD Abepura periode 1 Januari sampai 31 Desember 2023 meliputi karakteristik pasien (sosiodemografi dan penyakit) dari data rekam medis dan biaya medis langsung dari e-klaim INA-CBGs. Pengumpulan data biaya non medis langsung dan biaya tidak langsung dari kuesioner yang diwawancarakan melalui telepon kepada pasien atau pendampingnya. Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh karakteristik pasien (sosiodemografi dan penyakit) terhadap beban biaya pengobatan malaria. Hasil : Total 170 pasien dianalisis karakteristiknya untuk biaya medis langsung, 35 pasien diantaranya dianalisis untuk biaya non medis langsung dan biaya tidak langsung. Rata-rata biaya medis langsung sebesar Rp4.165.851±2.811.996 per episode rawat inap dan biaya non medis langsung sebesar Rp657.716±423.075 per episode rawat inap. Biaya tidak langsung dihitung menggunakan dua metode pendekatan yaitu Human Capital Approach (HCA) dan pelaporan langsung upah yang hilang. Rata-rata biaya tidak langsung berdasarkan perhitungan Human Capital Approach sebesar Rp644.741±349.884 per episode rawat inap dan berdasarkan upah yang hilang sebesar Rp572.020±604.994 per episode rawat inap. Beban biaya malaria secara total didominasi oleh biaya medis langsung sekitar 80%, dan beban biaya yang ditanggung oleh pasien sebesar 33,70% per episode rawat inap dari total pendapatan perbulannya. Hasil regresi berganda biaya medis langsung secara signifikan (p=0,000) dipengaruhi oleh karakteristik penyakit pasien seperti gejala malaria, kelas dan lama rawat inap sebesar 31,3%. Biaya non medis langsung secara signifikan (p=0,000) dipengaruhi oleh karakteristik penyakit pasien seperti lama rawat inap dan karakteristik sosiodemografi pasien seperti usia, jumlah pendamping dan jenis kendaraan sebesar 82,8%. Biaya tidak langsung secara signifikan dipengaruhi oleh karakteristik penyakit pasien seperti lama rawat inap dan karakteristik sosiodemografi pasien seperti usia, pendidikan, dan jumlah pendamping sebesar 81,5%. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian ini karakteristik sosiodemografi pasien seperti penggunaan jenis kendaraan dan jumlah pendamping dapat digunakan untuk mengontrol biaya pengobatan malaria. Analisis biaya pengobatan malaria menghasilkan rincian biaya secara deskriptif sehingga dapat memberikan gambaran alokasi dana yang optimal untuk mengatasi beban ekonomi penyakit malaria.
Kata Kunci : Cost of Illness, perspektif societal, Malaria, Jayapura