Analisis Konektivitas Simpul Transportasi Laut Pelabuhan Murhum Bau Bau
MUSLIMIN NUR HIDAYATULLAH, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A.
2024 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH
Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau menjadikan keterhubungan antar wilayah sangat penting. Pelabuhan Murhum Bau Bau memiliki peran strategis sebagai penghubung antara wilayah barat dan timur Indonesia. Keterhubungan ini bertujuan untuk memastikan pemerataan pembangunan melalui penggunaan kapal sebagai sarana transportasi laut. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis jaringan pelabuhan yang terhubung dengan Pelabuhan Murhum Bau Bau, dengan meninjau tingkat konektivitas dan aksesibilitasnya, interaksi daya tarik rute kapal, serta menentukan prioritas pengembangan rute di pelabuhan tersebut.
Untuk mencapai tujuan penelitian ini, dilakukan analisis konektivitas dengan menggunakan indeks konektivitas yang didasarkan pada jumlah jaringan dan pelabuhan yang terhubung. Dilakukan juga analisis aksesibilitas menggunakan parameter jarak dan waktu tempuh. Selain itu, interaksi daya tarik rute kapal dianalisis menggunakan model gravitasi, dengan mempertimbangkan jumlah penumpang, barang bawaan penumpang, serta jarak tempuh per rute kapal. Hasil dari analisis ini kemudian digunakan untuk menentukan prioritas pengembangan rute kapal, dengan mengklasifikasikan kapal berdasarkan temuan yang telah diperoleh sebelumnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rute pelayaran dengan kondisi konektivitas, aksesibilitas, dan daya tarik terbaik adalah KM Tidar, yang masuk dalam klasifikasi prioritas 9. Rute ini diarahkan untuk mempertahankan dan meningkatkan frekuensi pelayaran ke pelabuhan pelabuhan strategis seperti Pelabuhan Makassar, Ambon, dan Sorong, serta bersinergi dengan jalur yang bersinggungan dengan trayek tol laut di wilayah timur Indonesia. Sementara itu, rute dengan hasil terburuk berada pada klasifikasi prioritas 2, yaitu KM Ciremai dan KM Dobonsolo. Pengembangan kedua rute ini diarahkan untuk mengurangi jarak tempuh ke wilayah timur guna menghindari persaingan dengan kapal lain, serta mengalihkan rute ke wilayah Kalimantan, di mana permintaan tinggi dan ketersediaan kapal masih terbatas. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas, aksesibilitas, serta interaksi dan daya tarik rute tersebut.
Indonesia's geographic condition, which consists of thousands of islands, makes connectivity between regions very important. Murhum Bau Bau Port has a strategic role as a link between the western and eastern regions of Indonesia. This connection aims to ensure equitable development through the use of ships as a means of sea transportation. Therefore, this research was conducted to analyze the port network connected to Murhum Bau Bau Port, by reviewing the level of connectivity and accessibility, the interaction of the attractiveness of ship routes, and determining the priority of route development at the port.
To achieve the objectives of this research, connectivity analysis was carried out using a connectivity index which is based on the number of connected networks and ports. Accessibility analysis was also carried out using distance and travel time parameters. In addition, the interaction of the attractiveness of ship routes is analyzed using a gravity model, taking into account the number of passengers, passengers' luggage, and the distance traveled per ship route. The results of this analysis are then used to determine priorities for developing ship routes, by classifying ships based on previously obtained findings.
The research results show that the shipping route with the best connectivity, accessibility and attractiveness conditions is KM Tidar, which is included in priority classification 9. This route is directed at maintaining and increasing the frequency of shipping to strategic ports such as the Ports of Makassar, Ambon and Sorong, and synergize with routes that intersect with sea highway routes in eastern Indonesia. Meanwhile, the routes with the worst results are in priority classification 2, namely KM Ciremai and KM Dobonsolo. The development of these two routes is aimed at reducing travel distances to the eastern region to avoid competition with other ships, as well as diverting routes to the Kalimantan region, where demand is high and ship availability is still limited. This step is expected to increase connectivity, accessibility, as well as interaction and attractiveness of the route.
Kata Kunci : Transportasi Laut, Konektivitas, Aksesibilitas, Interaksi Daya Tarik, Kapal