Pengelolaan retribusi pasar di Kabupaten Trenggalek Tahun Anggaran 2001 s.d. 2003
MUJIONO, Dr. Faried Widjaya M., MA
2004 | Tesis | Magister Ekonomika PembangunanOtonomi tidak berarti daerah harus mampu membiayai seluruh atau sebagian besar pengeluarannya, tetapi perbaikan atau peningkatan dari sumber-sumber pendapatan daerah sudah tidak bisa ditawar lagi. UU 34 Tahun 2000 menghendaki PAD merupakan pencerminan local taxing power, pajak daerah dan retribusi daerah diharapkan menjadi sumber pembiayaan yang signifikan Penelitian ini bertujuan menghitung kontribusi, pertumbuhan, potensi, efektivitas dan efisiensi dan mengidentifikasi faktor-faktor kekuatan (strength), kelemahan (weaknesses) peluang (opportunities) dan tantangan (threath) dalam pengelolaan retribusi pasar di Kabupaten Trenggalek dari Tahun Anggaran 2001 sampai dengan 2003. Memakai alat analisis kontribusi (share), pertumbuhan, potensi, efektivitas, efisiensi dan analisis SWOT. Dari hasil penelitian didapat kesimpulan kontribusi retribusi pasar terhadap retribusi daerah rata-rata sebesar 22,39%, sedangkan kontribusi retribusi pasar terhadap pendapatan asli daerah rata-rata sebesar 5,37%. Pertumbuhan retribusi daerah rata-rata sebesar 44,87%, sedangkan pertumbuhan retribusi pasar rata-rata sebesar 16,45%. Ini karena adanya intensifikasi pemungutan. Potensi penerimaan retribusi pasar di Kabupaten Trenggalek Tahun 2004 dengan asumsi tidak ada perubahan tarif sesuai Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2000 dan tidak ada penambahan terhadap jumlah kios, los dan pelataran adalah sebesar Rp1.542.540.140,00. Efektivitas yang diukur dengan metode target yaitu membandingkan realisasi dengan target maka efektivitas rata-rata adalah sebesar 110,23%, sedangkan apabila efektivitas diukur dengan metode potensi yaitu membandingkan antara realisasi dengan potensi, efektivitasnya rata-rata hanya sebesar 49,69%. Dengan analisis SWOT bisa diidentifikasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses) yang merupakan faktor internal dan peluang (opportunities) serta tantangan (threats) yang merupakan faktor eksternal.
The meaning of autonomy is the regency have to able to defray entire or all of most its expenditure, but repair or improvement from source of regency earnings have cannot be bargained again. UU 34 Year 2000 wanting PAD represent the mirroring of local taxing power, local tax and retribution expected to become source significant. This research aim to count the contribution, growth, potency, effectiveness and efficiency and identify the strength factors, weaknesses, opportunities and threats in management of market retribution in Trenggalek Regency from Budget Year 2001 up to 2003. By analyzer contribution (share), growth, potency, effectiveness, efficiency and SWOT analysis. From research result got conclusion of contribution of market retribution to local retribution mean equal to 22,39%, while contribution of market retribution to local original earnings mean area equal to 5,37%. Growth of local retribution mean equal to 44,87%, while growth of market retribution mean equal to 16,45%. This is because intensive collection. The acceptance potency of market retribution in Trenggalek Regency of Year 2004 with the assumption that no tariff change, according to by law 9 Year 2000 and that no addition to kios amount, los and pelataran equal to Rp1.542.540.140,00. The effectiveness measured with the goals method that is compare the realization with the target goals mean equal to 110,23%, while if effectiveness measured with the potency method that is compare realization with the potency, effectiveness mean only equal to 49,69%. With the SWOT analysis can be identified strengths, weaknesses that representing internal factors and opportunities and also threats representing external factors.
Kata Kunci : Retribusi Pasar,Pengelolaan