Evaluasi Program Literasi Digital Di Daerah Istimewa Yogyakarta
Eko Prasetyo Nugroho, Dr. Bevaola Kusumasari, SIP., M.Si.
2024 | Tesis | S2 Administrasi Publik
Berkembangnya permasalahan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) disikapi pemerintah daerah dengan mengesahkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2019 tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Inisiatif tersebut diwujudkan dalam bentuk program literasi digital yang dirancang terpadu dan komprehensif dengan tujuan memberikan fasilitasi berupa pemahaman dan pengetahuan literasi digital dan menumbuhkan budaya positif masyarakat DIY dalam menggunakan perangkat digital. Namun demikian, bukti menunjukkan bahwa tujuan yang telah ditetapkan belum dapat tercapai. Situasi ini menarik peneliti untuk menyelidiki mengapa tujuan tersebut belum dapat dicapai.
Peneliti menggunakan penelitian evaluatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif untuk menjawab pertanyaan tersebut. Model evaluasi yang digunakan adalah model evaluasi Context Input Process & Product (CIPP), yang menekankan pada pelaksanaan program literasi digital yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sumber data untuk penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder yang diperoleh melalui teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi.
Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa belum optimalnya pencapaian tujuan program literasi digital yang disebabkan oleh sumber daya yang tidak memadai dari dukungan keuangan, SDM serta fasilitas yang menghambat upaya implementasi. Ketidaksesuaian antara metode program dan kondisi lapangan semakin menghambat relevansi, karena pendekatan terpusat menyebabkan rendundansi dan penggunaan sumber daya yang tidak efisien. Selain itu, kebijakan yang ada hanya berfokus pada keterampilan teknis dan mengabaikan faktor sosioekonomi, pendidikan, dan budaya yang esensial bagi literasi digital terpadu. Program ini juga menghadapi resistensi karena kurangnya keselarasan dengan nilai-nilai budaya lokal dan komunikasi yang tidak efektif menyebabkan rendahnya tingkat adopsi. Selain itu, ketidakselarasan antara tujuan kebijakan jangka pendek dan tujuan jangka panjang membatasi dampak program, sementara peningkatan biaya dan pemantauan yang tidak efektif membebani sumber daya tanpa meningkatkan hasil. Serta, isu-isu sosial yang kompleks seperti kemiskinan dan tantangan digital yang terus berkembang juga berpengaruh. Penelitian ini menunjukkan bahwa program yang ada belum mampu memproyeksikan dampak dan belum mengantisipasi perkembangan masalah. Hal ini terlihat dari lemahnya perencanaan yang belum mengakomodasi pemetaan masalah secara tepat.
The growing problem of Information and Communication Technology (ICT) utilization in the Special Region of Yogyakarta (DIY) was addressed by the local government by passing Regional Regulation No. 3/2019 on the Management and Utilization of Information and Communication Technology. The initiative is manifested in the form of a digital literacy program designed in an integrated and comprehensive manner with the aim of providing facilitation in the form of understanding and knowledge of digital literacy and fostering a positive culture of DIY people in using digital devices. However, the facts show that the set goals have not been achieved. This situation attracted the researcher to investigate why these goals could not be achieved.
The researcher used evaluative research with a qualitative approach to answer this question. The evaluation model used is the Context Input Process and Product (CIPP) evaluation model which emphasizes the implementation of the digital literacy program organized by the Communication and Informatics Office of Yogyakarta Special Region (DIY). The data sources of this study consisted of primary and secondary data obtained through interview techniques, observation, and documentation studies.
The results of the study identified that the achievement of digital literacy program objectives was not optimal due to inadequate resources in terms of financial support, human resources, and facilities that hindered implementation efforts. The mismatch between program methods and field conditions further hampers relevance, as the centralised approach causes delays and inefficient use of resources. In addition, existing policies focus only on technical skills and ignore socioeconomic, educational and cultural factors that are critical for integrated digital literacy. The program also faced resistance as the lack of alignment with local cultural values and ineffective communication led to low adoption rates. In addition, misalignment between short-term policy objectives and long-term goals limited the program's impact, while increased costs and ineffective monitoring strained resources without improving outcomes. In addition, complex social issues such as poverty and evolving digital challenges are also influential. This research shows that existing programs have not been able to project impact and have not anticipated the development of problems. This can be seen from the weak planning that has not accommodated the problem mapping appropriately.
Kata Kunci : Evaluasi CIPP, Evaluasi Program, Literasi Digital, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)