Kajian morfologi karst untuk geokonservasi dan pengembangan wisata alam di kawasan eko-karst gunungsewu
Masita Dwi Mandini Manessa, Dr. Eko Haryono, M.Si.
2008 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANPenelitian mengenai morfologi karst ini dilakukan di Kawasan Eko-karst Gunungsewu pada ketujuh kawasan yang telah diusulkan menjadi kawasan perlindungan dan pusat pengembangan kawasan Karst Gunungsewu. Tujuan penelitian ini adalah menginventarisasi karateristik morfologi, mengetahui tingkat kepentingan geokonservasi dan nilai potensi visual, serta menentukan arahan pengembangan wisata alam di kawasan Eko-karst Gunungsewu. Metode penelitian yang dilakukan adalah survey data instansional, interpretasi citra penginderaan jauh dan pengamatan langsung di lapangan. Analisis geokonservasi, potensi visual, dan analisis arahan pengembangan wisata alam dengan metode SWOT digunakan sebagai cara analisis data dalam memecahkan permasalahan penelitian sesuai dengan tujuan penelitian untuk mencapai hasil penelitian yang diharapkan. Hasil dari penelitian ini adalah kawasan Eko-karst Gunungsewu memiliki karateristik morfologi yang unik dan bervariasi. Berdasarkan pengamatan dan penilaian kondisi visual di kawasan Eko-karst Gunungsewu didapatkan bahwa Kawasan Museum Alam, Kawasan Bengawan Solo Purba, Kawasan Mulo, Kawasan Sungai Baksoko nilai kualitas pemandangan tinggi (A) sedangkan Kawasan Kalisuci, Jomblang, Grubug: Kawasan Bedoyo dan Bribin nilai kualitas pemandangan sedang (B). Tingkat kepentingan pada Kawasan Eko-karst Gunungsewu didasarkan pada keterdapatan dan keunikan (karateristik morfologi), ancaman (penggunaanlahan), dan fungsi (kondisi hidrologi dan arkeologi). Urutan kawasan Eko-Karst Gunungsewu untuk tingkatan kepentingan geokonservasi dari peringkat paling penting adalah sebagai berikut: (1) Kawasan Kalisuci, Jomlang, Grubug; (2) Kawasan Bedoyo dan Bribin; (3) Kawasan Komplek Pacitan; (4) Kawasan Museum Alam; (5) Kawasan Bengawan Solo Purba; (6) Kawasan Mulo; (7) Kawasan Sungai Baksoko. Mengacu pada tingkat kepentingan geokonservasi dan potensi visual dari tiap kawasan maka arahan pengembangan kawasan adalah pengembangan produk wisata yang berbasis pengetahuan dan masyarakat serta pengembangan fasilitas wisata harus selaras dengan kelestarian dan perlu adanya perbaikan kualitas lingkungan untuk menunjang pengembangan kawasan
Karst morphology research is located in Gunungsewu Eko-karst area which seven area that already proposed for protection and development center in Gunungsewu area. The research has 4 main objective, these objectives are to stocktaking carateristic of morphology, degree of sensitivity, visual resource and policies for nature tourism development in Gunungsewu Eko-karst area. The research method is instansional data survey, interpretation remote sensing data and direct field observation. Geoconservation analysis, visual resource analysis, and SWOT method to create policies for natural tourism development is used as by the way of data analysis in solving problems of research in line with the objective to achieve of the expected research. The results of this research show that morphology characteristic is unique and vary. Pursuant to perception and visual condition assessment in Gunungsewu Eko-karst area identified that Bedoyo and Bribin, Museum Alam, Bengawan Solo Purba, Mulo, and Baksoko River Area assess the high visual quality (A) while Kalisuci, Jomlang, Grubug; Bedoyo and Bribin has moderate visual quality (B). Degree of sensitivity in Geoconservation relied on uniqueness and variation (morphology characteristic), threat (land use), and function (condition of hydrology and archaeology). The sequence for degree of sensitivity level in Geoconservation from the most sensitive shall be as follows: (1) Kalisuci, Jomlang, Grubug Area; (2) Bedoyo and Bribin Area; (3) Komplek Pacitan Area; (4) Museum Alam Area; (5) Bengawan Solo Purba Area; (6) Mulo Area; (7) Baksoko River Area. Base on degree of sensitivity dan visual resource of each area hence policies of nature tourism development is create tour product based on science and lokal knowledge. Developt tourism facility in harmony with continuity and need the existence of environmental quality repair to support the area development
Kata Kunci : morfologi karst, geokonservasi, wisata alam, Eko-karst Gunungsewu,karst morphology, geoconservation, nature tourism, Gunungsewu Eko-karst Area,