Kekerasan terhadap Perempuan dalam Praktik Kawin Tangkap di Sumba Ditinjau dari Teori Segitiga Kekerasan Johan Galtung
SANATA MIZANA, Dr. Septiana Dwiputri Maharani; Sri Yulita Pramulia Panani, S.Fil., M.Phil.
2024 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena praktik kawin tangkap di Sumba yang dilakukan tanpa adanya persetujuan dari pihak perempuan. Pergeseran makna di dalam tradisi kawin tangkap menimbulkan problem baru, yaitu kekerasan terhadap perempuan dan objektifikasi perempuan. Penelitian ini menggunakan teori segitiga kekerasan Johan Galtung sebagai pisau analisis karena Galtung menawarkan bentuk-bentuk kekerasan yang lebih dari sekadar kekerasan fisik, yaitu kekerasan struktural dan kultural. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang praktik kawin tangkap serta menganalisis bentuk-bentuk kekerasan dan munculnya objektifikasi perempuan dalam praktik kawin tangkap di Sumba menggunakan teori segitiga kekerasan Johan Galtung.
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif deskriptif dengan jenis studi kepustakaan. Penelitian ini menggunakan model penelitian tentang masalah aktual yang didukung oleh berbagai sumber referensi yang relevan dengan praktik kawin tangkap di Sumba dan teori segitiga kekerasan Johan Galtung. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode hermeneutika filosofis dengan unsur-unsur metodis berupa interpretasi, holistik, deskripsi, dan refleksi kritis.
Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa temuan. Pertama, tradisi kawin tangkap mulanya dilakukan untuk mempersingkat proses perkawinan dan atas persetujuan kedua belah pihak calon pengantin, tetapi saat ini telah mengalami pergeseran makna sehingga kawin tangkap dilakukan tanpa adanya persetujuan pihak perempuan. Kedua, kekerasan terhadap perempuan dalam tradisi kawin tangkap di Sumba terjadi melalui tiga bentuk kekerasan. Kekerasan kultural terjadi melalui aspek agama, ideologi, dan seni di dalam budaya Sumba. Kekerasan struktural didukung oleh struktur sosial yang patriarkis, dominasi laki-laki, ketidakadilan ekonomi, budaya yang mewajarkan kekerasan, serta kelemahan hukum. Kekerasan langsung tampak dalam bentuk penangkapan, pemaksaan, dan pembiaran terhadap perempuan korban kawin tangkap. Ketiga, kekerasan langsung, struktural, dan kultural turut melanggengkan objektifikasi perempuan yang telah terjadi sejak adanya pergeseran makna di dalam praktik kawin tangkap di Sumba.
This research is motivated by the phenomenon of the practice of capture marriage in Sumba which is carried out without the consent of the woman. The shift in meaning in the capture marriage tradition raises new problems, namely violence against women and the objectification of women. This study uses Johan Galtung's triangle of violence theory as an analytical tool because Galtung offers forms of violence that are more than just physical violence, namely structural and cultural violence. The purpose of this study is to determine the background of the practice of capture marriage and to analyze the forms of violence and the emergence of objectification of women in the practice of capture marriage in Sumba using Johan Galtung's triangle of violence theory.
This research is a qualitative descriptive research with a literature study type. This study uses a research model on actual problems supported by various reference sources that are relevant to the capture marriage tradition in Sumba and Johan Galtung's triangle of violence theory. The method used in this study is the philosophical hermeneutic method with methodical elements in the form of interpretation, holistic, description, and critical reflection.
The results of this study show several findings. First, the tradition of capture marriage was originally carried out to shorten the marriage process and with the consent of both parties of the prospective bride and groom, but now there has been a shift in meaning so that capture marriage is carried out without the consent of the woman. Second, violence against women in the capture marriage tradition in Sumba occurs through three forms of violence. Cultural violence occurs through aspects of religion, ideology, and art in Sumbanese culture. Structural violence is supported by a patriarchal social structure, male dominance, economic injustice, a culture that justifies violence, and legal weaknesses. Direct violence is seen in the form of arrest, coercion, and neglect of women who are victims of capture marriage. Third, direct, structural, and cultural violence also perpetuate the objectification of women that has occurred since the shift in meaning in the practice of capture marriage in Sumba.
Kata Kunci : Feminisme, Objektifikasi, Praktik kawin tangkap, Sumba, Segitiga kekerasan