Tanggapan Fisiologis dan Hasil Lima Kultivar Kedelai (Glycine max (L). Merr.) pada Sistem Tumpang Sisip dengan Cabai Merah (Capsicum annuum L.) di Lahan Pasir Pantai
DYAH HAYU WINURSITA, Dr. Ir. Endang Sulistyaningsih, M.Sc.; Haviah Hafidhotul Ilmiah, M.Sc.
2024 | Skripsi | AGRONOMI
Kedelai merupakan tanaman pangan yang banyak diminati masyarakat. Namun, tingkat produksinya cenderung mengalami penurunan akibat keterbatasan lahan. Upaya ekstensifikasi ke lahan sub-optimal pasir pantai dan pengaturan sistem tanam tumpang sisip kedelai sebagai tanaman sela diharapkan dapat meningkatkan produksi kedelai. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tanggapan fisiologis dan hasil dari 5 kultivar kedelai yang ditanam secara monokultur dan tumpang sisip dengan tanaman cabai merah di lahan pasir pantai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-November 2023 di lahan pasir Pantai Samas, Yogyakarta. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah kultivar kedelai yang terdiri dari 5 taraf, yakni kultivar Anjasmoro, Dena 1, Demas 1, Grobogan, dan Mallika. Faktor kedua adalah sistem tanam yang terdiri dari 2 taraf, yakni sistem tanam monokultur dan tumpang sisip. Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan perlakuan kultivar dan sistem tanam memberikan pengaruh signifikan terhadap sebagian besar parameter fisiologis dan hasil. Tumpang sisip berpengaruh signifikan dan meningkatkan parameter durasi luas daun, klorofil total 8 minggu setelah tanam (mst), kerapatan stomata, variabel anatomi penampang melintang daun, luas daun khas 8 mst, panjang akar 4 mst, volume akar, bobot kering total, laju pertumbuhan tanaman, produktivitas, bobot biji/tanaman, jumlah polong/tanaman, dan jumlah biji/tanaman pada sebagian besar kultivar taman. Kultivar Anjasmoro, Dena 1, Demas 1, dan Mallika pada kedua sistem tanam menunjukkan produktivitas diatas potensi hasil. Pada sistem tumpang sisip Anjasmoro memiliki nilai produktivitas sebesar 6,38 ton/ha, Dena 1 sebesar 4,63 ton/ha, Demas 1 sebesar 6,43 ton/ha, dan Mallika sebesar 6,15 ton/ha.
Soybean is a staple crop widely favored by the public. However, its production levels tend to decline due to limited arable land. Efforts to extend cultivation to sub-optimal coastal sandy soils and implement relay cropping systems, where soybeans are used as intercrops, are expected to increase soybean production. The research aims to examine the physiological responses and yields of five soybean ciltivars under monoculture and relay cropping systems with red chili on coastal sandy soils. The research was conducted from July-November 2023 on the coastal sands field of Samas Beach, Yogyakarta. A factorial Randomized Complete Block Design with two factors was employed. The first factor was the soybean cultivars, consisting of five levels: Anjasmoro, Dena 1, Demas 1, Grobogan, and Mallika. The second factor was the planting system, comprising two levels: monoculture and relay cropping. Based on the research, it can be concluded that cultivar treatment and planting system had a significant effect on most of the physiological and yield parameters. The relay cropping had a significant effect and improved the parameters leaf area duration, total chlorophyll at 8 week after planting (wap), stomatal density, anatomical variables of leaf cross-section, specific leaf area at 8 wap, root length at 4 wap, root volume, total dry biomass, plant growth rate, productivity, seed weight/plant, number of pods/plant, and number of seeds/plant. Anjasmoro, Dena 1, Demas 1, and Mallika cultivars in both planting systems exhibited productivity exceeding their potential yields. In relay cropping system, Anjasmoro had a productivity value of 6,38 tons/ha, Dena 1 at 4,63 tons/ha, Demas 1 at 6,43 tons/ha, and Mallika at 6,15 tons/ha.
Kata Kunci : kedelai, tumpang sisip, fisiologis, lahan pasir pantai