Laporkan Masalah

Implementasi kebijakan Program Pengembangan Komoditi Kakao di Kabupaten Yapen Waropen

PATTIRADJA, Pattikayhatu, Dr. Mochtar Mas'oed

2004 | Tesis | Magister Administrasi Publik

Kakao merupakan salah satu komoditi perkebunan yang telah dikenal di Indonesia dan baru menjadi komoditi yang penting pada tahun 1951. Sejak itulah pemerintah mulai menaruh perhatian dan mendukung program pengembangannya, karena dinilai memiliki prospek baik sebagai komoditi ekspor non migas untuk dapat membantu meningkatkan devisa negara. Pemikiran tersebut dilatar belakangi oleh potensi yang dimiliki oleh Indonesia, kondisi alam memenuhi syarat tumbuh tanaman tersebut. Secara spasial pengembangan komoditi kakao dilakukan dengan tujuan memanfaatkan sumber daya alam, memenuhi konsumsi dengan maksud meningkatkan pendapatan masyarakat petani. Dengan diilhami oleh harga biji kakao yang tinggi maka pada tahun 1975 terjadi perluasan areal tanaman kakao secara pesat. Harga kakao yang tinggi membuat Departemen Pertanian menaruh perhatian pada komoditi ini, hingga pengembangan komoditi kakao menjadi proyek nasional sejak Pelita III dengan memperkenalkan dan mengembangkan kakao sebagai komoditas perkebunan rakyat. Implementasi kebijakan program pengembangan komoditi kakao di kabupaten Yapen Waropen merupakan upaya merealisasikan sebuah keputusan atau kesepakatan politik yang telah diambil. Dengan kata lain hal-hal yang telah didefinisikan secara abstrak hendak diwujudkan dalam bentuk konkrit. Selanjutnya untuk mendukung studi tersebut peneliti berpijak pada teori menurut Van Meter dan Van Horn (1975) bahwa implementasi kebijakan sebagai tindakan yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta baik secara individu maupun kelompok untuk mencapai tujuan sebagaimana dirumuskan di dalam kebijakan. Kegunaan studi ini untuk mengetahui pola usahatani dan pembinaan yang diterapkan, juga peluang dan kendala pengembangan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, sedangkan untuk menganalisis data digunakan analisis deskriptif. Selain itu dapat teridentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan program pengembangan komoditi kakao yakni faktor komunikasi, faktor karakteristik lembaga pelaksana, faktor watak/sikap pelaksana dan fakto r sumber daya manusia. Studi ini memberikan kesimpulan bahwa kabupaten Yapen Waropen memiliki potensi dan peluang untuk pengembangan komoditi kakao. Potensi dan peluang ini belum dimanfaatkan secara optimal, melalui implementasi kebijakan program pengembangan komoditi kakao yang perkembangannya masih sulit untuk mencapai tingkat efektivitas optimal yang disebabkan oleh kemampuan petani yang kurang untuk menyerap materi pelatihan dan menerapkan teknologi anjuran. Untuk itu disarankan supaya kedepan pengembangannya lebih terfokus pada peningkatan kemampuan dan ketrampilan petani melalui kegiatan-kegiatan khusus yang lebih spesifik. Sebab petani di Irian Jaya memiliki ciri yang berbeda dengan petani di luar Irian Jaya

Available in Fulltext

Kata Kunci : Kebijakan Pemerintah Daerah,Komoditi Kakao


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.