Praktik Pengelolaan Air Hujan Berbasis Komunitas (Studi tentang Komunitas Air Hujan Banyu Bening di Dusun Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman)
Agnur Hafnan Shulthoni, Drs. Suparjan, M.Si.
2024 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Air merupakan salah satu elemen mendasar dalam berjalannya proses kehidupan makhluk hidup mulai dari tumbuhan, hewan dan manusia. Oleh sebab itu, aksesibilitas air bersih dan layak merupakan suatu hal yang sangat krusial dimiliki oleh masyarakat guna menunjang kehidupannya. Lantas, apakah hari ini seluruh masyarakat Indonesia sudah mendapatkan haknya dalam mendapatkan akses air bersih dan layak seperti halnya yang tertulis dalam UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3? Fakta menyebutkan bahwa saat ini masyarakat Indonesia belum seratus persen mendapatkan haknya atas akses air bersih dan layak.
Kondisi ketersediaan cadangan air tanah yang semakin menipis akibat kerusakan ekosistem lingkungan dan eksploitasi besar-besaran, ditambah dengan risiko terjadinya krisis air global yang gejalanya semakin dirasakan, mendorong Sri Wahyuningsih menginisiasi berdirinya sebuah wadah gerakan konservasi air melalui pemanfaatan air hujan yang kemudian diberi nama Komunitas Banyu Bening yang berdiri di Dusun Tempursari pada tahun 2012. Komunitas tersebut bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, khususnya kelestarian sumber air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia melalui dua unit operasionalnya, yaitu Sekolah Air Hujan dan Sanggar Banyu Bening. Kondisi tersebut kemudian melatarbelakangi penulis untuk mengetahui bagaimana dinamika yang terjadi dalam proses perkembangan Komunitas Banyu Bening dalam mengkampanyekan pemanfaatan air hujan kepada masyarakat luas.
Penelitian ini dijalankan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dirangkai dengan dua paradigma konseptual, yaitu Konsep Pengelolaan Sumber Daya Berbasis Komunitas dan Konsep Hubungan Otoritas yang termuat dalam Teori Konflik Ralf Dahrendorf. Data dan informasi dalam penelitian ini diperoleh melalui serangkaian metode pengambilan data yang melibatkan pihak-pihak yang berkaitan dengan gerakan pemanfaatan air hujan yang dijalankan oleh Komunitas Banyu Bening. Penentuan informan dalam proses pengambilan data dilakukan dengan teknik purposif.
Proses pengumpulan data beserta analisisnya kemudian menyusun jawaban atas rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian yang dijalankan, yaitu terkait dengan praktik pengelolaan sumber daya berbasis komunitas yang dilakukan oleh Banyu Bening dan dinamika yang terjadi dalam praktik tersebut. Temuan penulis yang menyusun jawaban atas kedua rumusan masalah terangkai menjadi suatu lini masa yang diawali dengan berdirinya Komunitas Banyu Bening atas inisiasi dari Sri Wahyuningsih yang memiliki ketertarikan dalam memanfaatkan air hujan. Kemudian Komunitas Banyu Bening mengembangkan berbagai macam strategi kampanye pemanfaatan air hujan yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Selanjutnya, Komunitas Banyu Bening membangun jejaring dengan berbagai pihak eksternal untuk mengembangkan pergerakannya. Dan yang terakhir, dalam proses berjalannya pergerakan, ditemukan terjadinya konflik otoritas antara Komunitas Banyu Bening dan Dukuh Tempursari yang menyebabkan kampanye pemanfaatan air hujan di wilayah Dusun Tempursari tidak berjalan dengan optimal.
Water is a fundamental element for the life processes of living creatures, such as plants, animals, and humans. Therefore, the accessibility of clean and decent water is crucial to supporting their lives. But as questioned today, “Does every individual in Indonesia already have access to clean and decent water as written in the 1945 Constitution, Article 33, number 3 of the Republic of Indonesia?” The fact is, in the current situation, not everyone has had those rights fulfilled.
The issues regarding the declining availability of groundwater resources due to environmental ecosystem damage and massive exploitation, along with the risk of a global water crisis that is becoming increasingly perceived, prompted Sri Wahyuningsih to initiate a water conservation initiative through a rainwater utilization movement named the Banyu Bening Community, which was established in Dusun Tempursari in 2012. The community aims to educate the public about the importance of engaging in environmental sustainability movements on a daily basis, especially when it comes to the sustainability of water resources. The community works towards these aims using its two operational units, namely the Sekolah Air Hujan (the Rainwater School) and Sanggar Banyu Bening. This condition then inspired the author to explore and answer the question, “How did the dynamics occur in the development process of the Banyu Bening Community in campaigning for the use of rainwater to the wider community?”
This research was carried out using a qualitative descriptive approach intertwined with two conceptual paradigms: the community-based resource management concept and the authority relationship concept embedded in Ralf Dahrendorf's conflict theory. The data and information in this study were obtained through a series of data collection methods involving participants from the Banyu Bening Community who actively participate in the rainwater utilization movement. The determination of informants in the data collection process was done using purposive techniques.
The data collection process with its analysis then sets out the answers to the formula problems that are present in the research carried out, that is, related to the community-based resource management practices conducted by Banyu Bening and the dynamics that occurred in the practice. The findings of the author who compiled the answer to the two formula problems are conceived as a timeline initiated by the establishment of the Banyu Bening Community on the initiation of Sri Wahyuningsih who has an interest in utilizing rainwater. Then the Banyu Bening Community developed a variety of rainwater utilization campaign strategies that are adapted to the conditions of the society. And lastly, in the course of the movement, it was discovered that there was a conflict of authority between the Banyu Bening Community and the Dukuh Tempursari that caused the rainwater utilization campaign in the Dusun Tempursari region not to run optimally.
Kata Kunci : Air Hujan, Sumber Daya, Komunitas, Masyarakat, Konservasi, Lingkungan.