Strategi Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial pada Kelompok Tani Hutan Wana Mertha Kesatuan Pengelolaan Hutan Bali Barat
DINDA SEPTIA CAHYANI, Wiyono, S.Hut., M.Si.
2024 | Tugas Akhir | D4 PENGELOLAAN HUTAN
Perhutanan Sosial merupakan program pemerintah untuk memperbaiki kondisi hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan. Kemitraan kehutanan merupakan salah satu bentuk skema Perhutanan Sosial yang melibatkan partisipasi masyarakat dengan pengelola hutan. Penelitian ini dilakukan di KTH Wana Mertha yang terletak di Desa Budeng, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pengelolaan usaha; (2) menganalisis faktor internal dan faktor eksternal yang terkait dengan pengelolaan usaha; (3) merumuskan alternatif strategi pengembangan usaha. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi lapangan, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Pengelolaan usaha KTH Wana Mertha dilakukan dengan pembentukan tiga KUPS yaitu KUPS Mina Sari Mertha, KUPS Suka Wana Lestari dan KUPS Wana Kerthi; (2) Faktor internal (IFAS) yang dimiliki KTH Wana Mertha yaitu memiliki kondisi ekosistem mangrove yang sangat baik, aksesbilitas sangat mudah, memiliki produk olahan kuliner dengan cita rasa yang khas, menjadi wisata yang cukup terkenal di Kabupaten Jembrana, memiliki hubungan baik dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bali, memiliki potensi jasa edukasi mengenai ekosistem mangrove, pengurus dan anggota kurang bersinergi, belum melakukan inovasi pengembangan usaha. Faktor eksternal (EFAS) yang dimiliki KTH Wana Mertha yaitu objek wisata berbasis eduwisata mangrove masih sedikit dan jarang ditemui di Bali Barat, KTH Wana Mertha dapat melakukan mitra bersama perusahaan dengan program CSR (Corporate Social Responsibility), banyak objek wisata di Bali yang jauh lebih terkenal dan dekat dengan pusat destinasi wisata di Bali. (3) Rumusan strategi yang dihasilkan yaitu membuat paket wisata yang mengkolaborasikan tiga KUPS dan bermitra dengan agen wisata, memaksimalkan promosi ke pasar yang lebih luas, mengadakan pelatihan mengenai peningkatan keterampilan dan kualitas SDM, menonjolkan ciri khas yang dimiliki dan menciptakan sinergi antar anggota.
Social Forestry is a government program to improve forest conditions and increase the welfare of communities around forest areas. Forestry partnerships are a form of Social Forestry is a government program to improve forest conditions and increase the welfare of communities around forest areas. Forestry partnerships are a form of Social Forestry scheme that involves community participation with forest managers. This research was conducted at KTH Wana Mertha which is located in Budeng Village, Jembrana District, Jembrana Regency,Bali Province. This research aims to: (1) describe business management; (2) analyzing internal and external factors related to business management; (3) formulate alternative business development strategies. The method used in this research is descriptive with a qualitative approach. Data collection was carried out by means of field observations, in-depth interviews and documentation studies. Data analysis was carried out descriptively qualitatively with SWOT analysis. The research results show that (1) KTH Wana Mertha business management is carried out by establishing three KUPS, namely KUPS Mina Sari Mertha, KUPS Suka Wana Lestari and KUPS Wana Kerthi; (2) The internal factors (IFAS) owned by KTH Wana Mertha are that it has very good mangrove ecosystem conditions, very easy accessibility, has culinary processed products with a distinctive taste, is quite a well-known tourist attraction in Jembrana Regency, has good relations with other parties. The Bali Province Environment and Forestry Service has the potential for educational services regarding the mangrove ecosystem, the management and members lack synergy, and have not carried out business development innovations. The external factors (EFAS) that KTH Wana Mertha has, namely mangrove education-based tourist attractions are still few and rarely found in West Bali, KTH Wana Mertha can partner with companies with CSR (Corporate Social Responsibility) programs, many tourist attractions in Bali are much more famous and close to the center of tourist destinations in Bali. (3) The resulting strategies formulation is creating a tour package that collaborates three KUPS and partners with tourism agents, maximizing promotion to a wider market, holding training on improving skills and quality of human resources, highlighting unique characteristics and creating synergy between members.
Kata Kunci : Perhutanan Sosial, Kemitraan Kehutanan, Wana Mertha