Antara Kandidasi dan Faksionalisme: Studi Kasus Pencalonan Aji Setyawan dan Windarti Agustina pada Pemilihan Wali Kota Magelang 2020
WASKITO AJI SETIO HARTONO, Prof. Dr. Haryanto, M.A.
2024 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana ketidaktepatan hasil kandidasi Partai Demokrasi Indoneisa Perjuangan (PDIP) justru menyebabkan faksionalisasi di tubuh internal partai yang kemudian berakibat pada kekalahan pasangan calon Aji Setyawan dan Windarti Agustina pada Pemilihan Wali Kota Magelang 2020. PDIP yang biasanya mendominasi wilayah Kota Magelang justru mengalami kekalahan signifikan di dua dari tiga kecamatan yang sebelumnya dianggap sebagai “kandang banteng”. Dengan menggunakan konsep seleksi kandidat dari Hazan dan Rahat (2001) dan tiga tujuan stratetegis partai (Sjoblom, 1968; Vandeleene, 2023), penelitian ini menemukan bahwa meskipun PDIP menerapkan sistem seleksi kandidat multi-tahap, keputusan mencalonkan pasangan Aji Setyawan dan Windarti Agustina cenderung elitis dan tidak mempertimbangkan aspirasi kader lokal. Hal ini memicu munculnya faksi perlawanan yang secara aktif menggagalkan upaya pemenangan PDIP. Menggunakan konsep faksionalisme Zariski (1960) dan tiga wajah faksionalisme Boucek (2009), penelitian ini menemukan bahwa faksi-faksi tersebut mengambil langkah-langkah untuk mempengaruhi pendukung mereka agar tidak memilih pasangan calon PDIP atau bahkan mengalihkan suaranya kepada pihak lawan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa hasil kandidasi PDIP yang mengusung Aji Setyawan dan Windarti Agustina memunculkan wajah faksionalisme degeneratif yang menggerogoti kekuatan PDIP sehingga akhirnya mengakibatkan kekalahannya sendiri pada Pemilihan Wali Kota Magelang 2020.
This study examines how the inaccuracy of the candidate selection process by the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDIP) led to factionalism within the party, which ultimately resulted in the defeat of Aji Setyawan and Windarti Agustina in the 2020 Magelang Mayoral Election. PDIP, which typically dominates the Magelang area, experienced significant losses in two out of three sub-districts that were previously regarded as its strongholds or “kandang banteng.” Using Hazan and Rahat's (2001) candidate selection theory and the three strategic goals of parties (Sjoblom, 1968; Vandeleene, 2023), this study finds that although PDIP implemented a multi-stage candidate selection system, the decision to nominate Aji Setyawan and Windarti Agustina was elitist and failed to consider the aspirations of local cadres. This triggered resistance factions that actively sabotaged PDIP’s campaign efforts. Applying Zariski’s (1960) concept of factionalism and Boucek’s (2009) three faces of factionalism, the study reveals that these factions took deliberate steps to influence their supporters not to vote for PDIP’s candidates or even to transfer their votes to the opposition. The findings conclude that PDIP’s decision to nominate Aji Setyawan and Windarti Agustina fostered a form of degenerative factionalism, which weakened the party and ultimately contributed to its defeat in the 2020 Magelang Mayoral Election..
Kata Kunci : kandidasi, faksionalisme, pilkada, PDIP, candidacy, factionalism, local elections, PDIP