Review on The Problems and Challenges in The Implementation of Electric Vehicle (EVs) Infrastructure Policy in Indonesia
ZARATHUSTRA ALFARAZI KURNIAWAN, Dr. Indri Dwi Apriliyanti, S.IP., M.B.A.
2024 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Beberapa teknologi telah muncul sebagai solusi yang menjanjikan untuk meninggalkan kendaraan berbahan bakar fosil, termasuk kendaraan listrik (EV). Teknologi EV telah berevolusi dari mimpi futuristik menjadi sesuatu yang dapat dicapai dalam waktu dekat. Indonesia, sebagai negara berkembang yang saat ini menjadi pengguna utama bensin dan solar, sangat rentan terhadap dampak ekonomi dan lingkungan akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil. Sebagai hasilnya, mobil listrik mulai mendapatkan momentum di negara ini. Untuk membantu mengembangkan 'ekosistem' EV, pemerintah Indonesia telah membuat dan mengimplementasikan beberapa kebijakan untuk membantu mengembangkan EV di Indonesia. Kebijakan ini menjabarkan tujuan dan landasan yang diperlukan untuk industri EV, seperti mendesak pegawai negeri sipil dan pejabat tinggi pemerintah untuk menggunakan EV, mempromosikan investasi di bidang yang berhubungan dengan EV seperti pertambangan nikel, yang akan digunakan untuk baterai EV atau insentif bagi produsen mobil untuk mengimpor atau memproduksi EV di Indonesia, dan tentu saja pendanaan untuk infrastruktur yang berhubungan dengan EV seperti stasiun baterai EV. Dalam tulisan ini, kami akan fokus untuk mencari tahu masalah dan tantangan dalam mengimplementasikan kebijakan infrastruktur EV di Indonesia, yang menurut penulis masih kurang. Untuk memahami hambatan dalam pengembangan infrastruktur EV, digunakanlah konsep carbon lock-in untuk menjelaskan bagaimana ketergantungan (terhadap bahan bakar fosil) terjadi dan berkembang. Studi ini akan berguna untuk memperkuat bagaimana 3 jenis carbon lock-in, yaitu infrastruktur dan teknologi, institusi, dan perilaku, saling berkaitan erat dan berkontribusi terhadap inersia pengembangan menuju energi yang lebih ramah lingkungan seperti EV. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih baik dari semua aspek diperlukan sebelum keputusan pengambilan kebijakan dibuat dalam mengimplementasikan model-model EV.
Several technologies have emerged as promising solutions to abandon fossil fuel vehicles, including electric vehicles (EV). EV technology has evolved from a futuristic dream to something achievable in the near future. Indonesia, as a developing country that is currently a major user of petrol and diesel, is very vulnerable to the economic and environmental implications of dependence on fossil fuels. As a result, EVs are gaining momentum in the country. To help develop the EV 'ecosystems', the Indonesian government has produced and implemented several policies to help develop EVs in Indonesia. This policy lays out the aims and groundwork that are needed for the EV industry, such as urging civil servants and higher-ranking government officials to use EVs, promoting investment in EV-related fields such as nickel mining, which would be used for EV batteries or incentives for carmakers to import or produce EV in Indonesia, and of course funding for EV related infrastructure such as EV battery stations. In this paper, we will focus on finding out the problems and challenges in implementing EV infrastructure policies in Indonesia, which the author finds still lacking. To understand the barriers to the development of EV infrastructure, carbon lock-in is used to explain how dependence (on fossil fuels) occurs and develops. This study will be useful to strengthen how the 3 types of carbon lock-in, i.e. infrastructure and technology, institutions, and behaviour, are closely related and contribute to the inertia of development towards greener energy such as EV. Therefore, a better understanding of all aspects is needed before policymaking decisions are made in implementing the EV models.
Kata Kunci : Electric Vehicle (EVs), EV Infrastructure Policies, Carbon Lock In, EVs Problems & Challenges