Kajian Pengetahuan Lokal Masyarakat Desa Asemdoyong Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang dalam Budaya Baritan (Sedekah Laut)
TIA INTAN NURLAELI, Dr. Muhammad Najib, S.Sos., M.A.
2024 | Skripsi | Sosiologi
Sedekah laut atau kerap disebut larungan merupakan salah satu adat yang masih erat dilakukan oleh masyarakat Desa Asemdoyong. Praktik budaya ini biasa disebut sebagai Baritan. Sedekah sebagai bentuk rasa syukur diaktualisasikan dalam bentuk pelarungan sesaji di laut (Baritan). Kajian ini menggunakan pisau analisis Teori Sosiologi Pengetahuan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, Teori Folklor, dan Teori Sinkretisme Budaya. Metode riset yang digunakan adalah fenomenologi untuk menggali lebih dalam pengetahuan dan pengalaman hidup masyarakat melalui teknik pengumpulan data wawancara mendalam kepada sejumlah informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari dimensi sejarah, masyarakat memaknai Baritan sebagai bentuk konstruksi sosial yang diwariskan secara turun temurun. Dari dimensi sosial, masyarakat meyakini bahwa melalui Baritan kehidupan sosial mereka semakin erat karena sikap gotong royong dan saling membutuhkan dalam satu tujuan yang sama. Dari dimensi ekonomi, masyarakat menganggap bahwa Baritan membantu mengembangkan sektor UMKM di masyarakat. Sedang dari dimensi ekologi, tradisi ini memunculkan sikap dan perilaku masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan laut agar penjaga laut merasa disegani. Terakhir, dari tinjauan sinkretisme budaya Jawa dan Islam, selama ini Baritan di Asemdoyong berlangsung dalam harmoni yang dikemas dalam nuansa Islami dan Kejawen (jawi).
Sea alms or often called larungan is one of the customs that is still closely practiced by the people of Asemdoyong Village. This practice is usually called Baritan. Alms as of form of gratitude is actualized in the form of the prohibition of offerings in the sea (Baritan). This study uses the analytical of Peter L. Berger and Thomas Luckmann’s Sociological Theory of Knowledge, Folklor Theory, and Cultural Syncrestism Theory. The method used is phenomenology to dig deeper into information from people’s life experiences, so it requires data collection techniques with in-depth interviews. Related to history, people interpret Baritan as a form of hereditary social construction. Social factors, the community believes that from Baritan, their social life is getting closer because of the attitude of mutual cooperation and needing each other in one common goal. Economic factors, the community claims that Baritan helps develop the surrounding UMKM sector. Ecological factors, from this tradition emerge the attitude and nature of the community to always maintain the cleanliness of the marine environment so that sea guards feel respected. Finally, in relation to the syncrism of Javanese and Islamic cultures, so far, Baritan Asemdoyong has been harmoniously packaged in Islamic and Javanese nuances (Jawi).
Kata Kunci : Pengetahuan Lokal, Baritan, Sedekah Laut, Pemalang, Sinkretisme.