KISAH SULTAN IBRAHIM IBN ADHAM DALAM SERAT HIKAYAT ST.75 PUPUH I – II KOLEKSI PURA PAKUALAMAN: SUNTINGAN TEKS DAN TERJEMAHAN
EGA MUSTIKA, Dr. Arsanti Wulandari, M. Hum.
2024 | Skripsi | SASTRA NUSANTARA
Naskah Serat Hikayat St.75
merupakan naskah beraksara pegon koleksi Perpustakaan Widyapustaka Pura
Pakualaman Yogyakarta. Naskah ini memuat kumpulan cerita dari tokoh-tokoh agama
Islam, salah satunya ialah Sultan Ibrahim ibn Adham. Sultan Ibrahim
dulunya merupakan seorang raja di negara Balkh yang kemudian
meninggalkan singgasana kerajaannya demi meraih ridho Allah Ta’ala.
Penelitian ini secara khusus
mengangkat cerita kesufian Sultan Ibrahim yang ter dapat pada pupuh I dan II
yang disajikan dalam bentuk suntingan teks dan terjemahan. Dalam pengerjaannya
digunakanlah metode penelitian filologi dengan pendekatan kritik teks dan
penerjemahan campuran. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat
memudahkan pembaca dalam memahami isi kandungan teks Serat Hikayat St.75.
Adapun piwulang atau amanat yang terkandung di dalamnya terbagi menjadi dua bagian yakni, amanat untuk seorang raja atau pemimpin dan amanat bagi umat manusia umumnya. Bahwasanya seorang raja haruslah memiliki sikap: (a) Tidak haus kekuasaan; (b) Menjadi pemimpin yang tetap mengingat penciptanya; (c) Menjadi seorang pemimpin yang membawa kabar gembira. Sedangkan amanat bagi semua manusia adalah (a) Bertakwa pada Allah Swt; (b) Memberi lebih baik daripada menerima; (c) Tetap beriman pada Allah; (d) Sikap zuhud; (e) Tidak makan dan minum dengan terburu-buru; (f) Menjadi gelas kosong saat menjadi murid; (g) Tidak menjadi seorang pendendam.
Serat Hikayat St.75 is a
manuscript written in the Pegon script from the Widyapustaka Library of the
Pura Pakualaman in Yogyakarta. This manuscript contains a collection of stories
of Islamic religious figures, one of which is Sultan Ibrahim ibn Adham. Sultan
Ibrahim was once a king in the country of Balkh, who then left the throne of
his kingdom to achieve the pleasure of Allah Ta'ala.
This research
specifically focuses on the history of Sultan Ibrahim's Sufism in Pupuh I and
II, which is presented in the form of textual edits and translations. In doing
so, a philological method of research has been used with a mixed approach of
textual criticism and translation. This research is expected to facilitate the
reader's understanding of the content of the text of Serat Hikayat St.75.
The piwulang or mandate contained in it is divided into two parts: the mandate for a king or leader and the mandate for humanity in general. A king should have the following attitudes: (a) not be power-hungry; (b) be a leader who brings good news. While the mandate for all people is: (a) Fear Allah Swt; (b) Giving is better than receiving; (c) Keeping faith in Allah; (d) Zuhud attitude; (e) Not eating and drinking in a hurry; (f) Being an empty glass when being a student; (g) Not being a vindictive person.
Kata Kunci : Kata Kunci: Serat Hikayat St.75, naskah pegon, Sultan Ibrahim ibn Adham, piwulang, suntingan teks, terjemahan.