Strategi Lembaga Penyelenggara, Aparat Negara dan Peserta Pemilu dalam Manajemen Konflik Pemilu Bentrok Simpatisan Organisasi Sayap Partai (OSP) PDI-P dan PPP Kabupaten Sleman pada Pemilu Tahun 2024
CINDY AULIA FITRIANA, Hasrul Hanif, S.I.P., M.A, Ph. D.
2024 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Kabupaten Sleman menjadi daerah dengan tingkat
kerawanan sosial-politik yang perlu diwaspadai selama tiga pemilihan umum (pemilu)
berturut-turut sejak tahun 2014, 2019, dan 2023. Bentuk kerawanan
sosial-politik yang diwaspadai adalah bentrok antara pendukung atau simpatisan
dari partai politik berideologi nasionalis (PDI-P) dengan partai politik
berideologi agamis (PPP). Bentrokan terjadi karena faktor historis dan
heterogenitas sosial politik di Kabupaten Sleman. Melihat potensi konflik yang
memungkinkan muncul kembali di pemilu tahun 2024, maka diperlukan pencegahan
dan manajemen konflik yang tepat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
melihat bagaimana pemetaan potensi konflik pemilu dan pengelolaan konflik
pemilu, baik yang bersifat preventif maupun resolusi setelah terjadinya konflik
yang dilakukan lembaga penyelenggara, aparat negara dan peserta pemilu di
Kabupaten Sleman. Metode penelitian yang digunakan merupakan jenis penelitian
kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data penelitian berasal dari data
primer yang dilakukan dengan wawancara semi terstruktur kepada KPU; Bawaslu;
Polresta Sleman; Partai Politik PDIP dan PPP; warga yang menjadi korban
bentrokan; dan simpatisan underbow dari kedua partai. Sedangkan data sekunder
berasal dari sumber-sumber literatur buku, jurnal, data dari instansi
pemerintahan yang relevan terkait pemilu di Kabupaten Sleman dan media
jurnalistik terverifikasi.
Temuan penelitian menunjukkan secara heterogenitas
sosial dan politik, Kabupaten Sleman terbukti memiliki banyak kelompok
masyarakat. Perseteruan antara simpatisan laskar PDI-P dan PPP di Sleman
sebagai dua kelompok politik telah berlangsung sejak era Orde Baru. Faktor
internal bentrokan adalah (1) dendam-dendam lama yang diwariskan. (2) kultur
simpatisan dalam merayakan pesta demokrasi yang melibatkan alkohol, (3) konvoi
yang mengganggu lalu lintas, dan (4) melanggar aturan menggunakan knalpot yang
tidak sesuai standar. Sedangkan faktor eksternal disebabkan oleh provokator
dari kelompok lain dan pengelolaan jadwal kampanye yang belum tepat.
Berdasarkan data penelitian, jumlah konflik bentrok antar simpatisan di pemilu
2024 menurun dan selalu terjadi saat masa kampanye. Strategi dari para lembaga
untuk melakukan upaya preventif dan memanajemen konflik antar simpatisan saat
pemilu dilakukan dalam bentuk koordinasi lintas sektor dan fokus pada program
kerja masing-masing lembaga dan telah memiliki kesadaran untuk saling
membutuhkan, namun perlu mewaspadai ego sektoral. Sedangkan pencegahan konflik dilakukan
dengan proses sosialisasi persuasif dan pengadaan forum diskusi. Jika konflik
sudah terjadi, maka resolusi konflik yang dilakukan adalah mediasi, ajudikasi,
dan tindakan koersif.
Sleman Regency is
an area with a level of socio-political vulnerability that needs to be watched
out for during three consecutive general elections (elections) since 2014, 2019
and 2023. The form of socio-political vulnerability that needs to be watched
out for is clashes between supporters or sympathizers of political parties with
nationalist ideologies. (PDI-P) with a political party with a religious
ideology (PPP). The clash occurred due to historical factors and
socio-political heterogeneity in Sleman Regency. Seeing the potential for
conflict to reappear in the 2024 election, proper conflict prevention and
management is needed. Therefore, this research aims to see how the mapping of
potential election conflicts and the management of election conflicts, both
preventive and resolution after a conflict occurs, is carried out by election
organizing institutions, state apparatus and participants in Sleman Regency.
The research method used is a type of qualitative research with a case study
approach. Research data comes from primary data conducted through
semi-structured interviews with the KPU; Bawaslu; Sleman Police; PDIP and PPP
Political Parties; residents who are victims of clashes; and sympathizers from
both parties. Meanwhile, secondary data comes from literary sources, books,
journals, data from relevant government agencies related to elections in Sleman
Regency and verified journalistic media.
Research findings
show that in terms of social and political heterogeneity, Sleman Regency is
proven to have many community groups. The feud between PDI-P and PPP
sympathizers in Sleman as two political groups has been going on since the New
Order era. The internal factors of the clash are (1) old grudges inherited. (2)
a culture of sympathizers in celebrating democracy parties involving alcohol,
(3) convoys that disrupt traffic, and (4) breaking the rules using exhausts
that do not comply with standards. Meanwhile, external factors were caused by
provocateurs from other groups and inappropriate management of the campaign
schedule. Based on research data, the number of clashes between sympathizers in
the 2024 elections has decreased and always occurs during the campaign period. The
strategy of institutions to make preventive efforts and manage conflicts
between sympathizers during elections is carried out in the form of
cross-sector coordination and focus on the work programs of each institution
and have an awareness of each other but need to be aware of sectoral egos.
Meanwhile, conflict prevention is carried out through a persuasive
socialization process and the provision of discussion forums. If a conflict has
occurred, then the conflict resolution carried out is mediation, adjudication
and coercive action.
Kata Kunci : konflik pemilu, Kabupaten Sleman, underbow partai politik