Gentrifikasi di Kota Yogyakarta: Meninjau Aksesibilitas dan Strategi Pemuda dalam Menghadapi Transisi Menuju Kepemilikan Hunian Rumah
RAHMA YUNINDA, Dr. Phil. Oki Rahadianto Sutopo, S.Sos., M.Si.
2024 | Skripsi | Sosiologi
Gentrifikasi di Kota Yogyakarta menyebabkan berbagai permasalahan ruang kota. Masifnya pembangunan hotel di Kota Yogyakarta untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan wisatawan justru mendorong terjadinya gentrifikasi pariwisata, akhirnya kebijakan pembangunan kota mengarah pada komersialisasi. Hal ini menyebabkan berkurangnya lahan dan mahalnya harga tanah di Kota Yogyakarta. Masyarakat asli Kota Yogyakarta yang termasuk kalangan kelas sosial menengah ke bawah akan kesulitan untuk memiliki rumah di daerah asalnya. Adanya permasalahan tersebut, sangat penting untuk melihatnya dari sisi pemuda karena nantinya mereka akan mengalami masa transisi menuju rumah sendiri. Namun, adanya berbagai permasalahan dan keterbatasan yang dialami oleh pemuda akhirnya menyebabkan kerentanan dalam kepemilikan rumah di Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi kritis. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur secara mendalam dan dilengkapi dengan studi pustaka melalui kajian yang relevan, selanjutnya dianalisis menggunakan teori production of space Lefebvre dan perspektif transisi pemuda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi ruang Kota Yogyakarta telah menyebabkan pemuda kesulitan untuk memiliki rumah di Kota Yogyakarta dan tidak ada upaya pemerintah daerah terkait permasalahan yang dihadapi oleh pemuda tersebut. Komersialisasi ruang kota menyebabkan pergeseran penggunaan lahan perkotaan, dimana fungsi hunian yang bersifat non-komersial harus bersaing dengan fungsi komersial yang semakin mendominasi. Berbagai permasalahan yang dihadapi pemuda dalam aksesibilitasĀ memiliki rumah di Kota Yogyakarta, yaitu kelangkaan lahan hunian dan mahalnya harga tanah, keterbatasan finansial, dan persaingan dengan pendatang ekonomi tinggi. Strategi pemuda dalam menghadapi transisi menuju kepemilikan rumah dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain perbedaan gender, kelas sosial, sumber daya yang dimiliki, pandangan terkait acuan kedewasaan, serta warisan dan dukungan orang tua.
Gentrification in Yogyakarta City causes various urban space problems. The massive construction of hotels in Yogyakarta City to meet the needs and demands of tourists actually encourages tourism gentrification, ultimately the city development policy leads to commercialization. This causes a reduction in land and expensive land prices in Yogyakarta City. The indigenous people of Yogyakarta City who are included in the lower middle social class will have difficulty owning a house in their home area. With this problem, it is very important to see it from the perspective of the youth because later they will experience a transition period towards their own home. However, the various problems and limitations experienced by youth ultimately cause vulnerability in home ownership in Yogyakarta City. This study uses a qualitative method with a critical phenomenology approach. Data collection was carried out through in-depth semi-structured interviews and supplemented with literature studies through relevant studies, then analyzed using Lefebvre's production of space theory and the youth transition perspective. The results of the study show that the production of space in Yogyakarta City has caused youth to have difficulty owning a house in Yogyakarta City and there has been no effort by the local government regarding the problems faced by these youth. The commercialization of urban space has caused a shift in urban land use, where non-commercial residential functions must compete with commercial functions that are increasingly dominant. There are various problems faced by young people in the accessibility of owning a house in the city of Yogyakarta, namely the scarcity of residential land and high land prices, financial limitations, and competition with high-income immigrants. Youth strategies in facing the transition to home ownership are influenced by various factors, including differences in gender, social class, the resources they have, views regarding the benchmarks for adulthood, as well as inheritance and parental support.
Kata Kunci : gentrifikasi, aksesibiltas, strategi, transisi pemuda, kepemilikan rumah