Asosiasi Kemiskinan Subjektif dengan Kepuasan Hidup Remaja di Indonesia
FARIDHA ACHSANTI, Amelia Maika, S.Sos., MA., Ph.D.
2024 | Skripsi | Sosiologi
Pendahuluan : Persoalan
kemiskinan dalam pertumbuhan remaja menjadi salah satu isu penting yang perlu
mendapatkan perhatian. Kondisi dan perasaan miskin yang dapat timbul sebagai
akibat dari interaksi dan perilaku sehari-hari individu dengan lingkungan
sekitarnya dapat berdampak pada sosial-emosional, harga diri, kesehatan mental,
dan bahkan menghambat perkembangan/kemajuan remaja. Kemiskinan subjektif dapat
membuat rendah nilai kepuasan hidup seseorang. Penelitian ini berupaya untuk
mengkaji determinan yang berasosiasi dengan kemiskinan subjektif serta
bagaimana asosiasi dengan kepuasan hidup remaja di Indonesia.
Metode : Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif menggunakan data
sekunder. Data sekunder yang digunakan yakni Indonesia Family Life Survei
(IFLS) Gelombang Kelima. Responden dalam penelitian ini adalah remaja dengan
usia 15-24 tahun. Jumlah total responden akhir dalam penelitia ini adalah 6.853.
Seluruh data kemudian diolah secara deskriptif dengan korelasi, t-test, atau
anova dan secara inferensial menggunakan metode analisis regresi linear.
Hasil : Beberapa karakteristik individu remaja secara statistik terbukti
memiliki asosiasi dengan kemiskinan subjektif dan kepuasan hidup. Asosiasi yang
kuat terlihat pada determinan pendidikan, status kegiatan utama, dan lokasi tempat tinggal. Sementara determinan
jenis kelamin, usia, dan pendidikan tidak ditemukan signifikan di beberapa
model persamaan dan signifikan di 5% pada sebagian lainnya. Selanjutnya, hasil
uji juga membuktikan kemiskinan subjektif memiliki asosisiasi dengan kepuasan
hidup remaja dengan mengontrol variabel karakteristik individu pada model.
Kesimpulan : Melalui uji statistik dapat
disimpulkan bahwa kemiskinan subjektif berasosiasi dengan kepuasan hidup remaja. Perbedaan remaja dengan
karakteristik tertentu menjadi salah satu penentu bagaimana individu tersebut
dapat meraih tujuan untuk mencapai kepuasan. Semakin besar indikator atau
faktor konversi yang dimiliki seorang remaja berasosiasi dengan peluang kebebasan
untuk memperluas kemampuan dan n-Ach yang tinggi.
Introduction: The issue
of poverty in adolescent growth is one of the important issues that needs
attention. Conditions and feelings of poverty that can arise as a result of the
interaction and daily behavior of individuals with their surroundings can have
an impact on social-emotional, self-esteem, mental health, and even inhibit the
development/progress of adolescents. Subjective poverty can lower a person's
life satisfaction score. This study examines the determinants associated with
subjective poverty and how it is related to adolescent life satisfaction in
Indonesia.
Method: This study was
conducted using a quantitative method using secondary data. The secondary data
used was the Fifth Wave of the Indonesia Family Life Survey (IFLS). Respondents
in this study were adolescents aged 15-24 years. The total number of final
respondents in this study was 6,853. All data were then processed descriptively
with correlation, t-test, or ANOVA and inferentially using the linear
regression analysis method.
Results: Several
characteristics of adolescent individuals were statistically proven to have an
association with subjective poverty and life satisfaction. Strong associations
were seen in the determinants of education, main activity status, and location of
residence. While the determinants of gender, age, and education were not found
to be significant in some equation models and significant at 5% in others.
Furthermore, the test results also prove that subjective poverty has an
association with adolescent life satisfaction by controlling the individual
characteristic variables in the model.
Conclusion: Through
statistical tests, it can be concluded that subjective poverty is associated
with adolescent life satisfaction. The difference between adolescents with
certain characteristics is one of the determinants of how the individual can
achieve goals to achieve satisfaction. The greater the indicator or conversion
factor owned by an adolescent is associated with the opportunity for freedom to
expand abilities and high n-Ach.
Kata Kunci : Kemiskinan Subjektif, Kepuasan Hidup, Remaja, Capability to Function, Need for Achievement