Laporkan Masalah

ANALISIS WACANA : MEMAKNAI RUANG DALAM PERPINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN KOTA SEMARANG DI BUKIT SEMARANG BARU

R. ALVARO PARDHANA, Devy Dhian Cahyati, S.IP., M.A.

2024 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Studi ini berusaha membahas mengenai fenomena wacana pemindahan pusat pemerintahan yang semula berada di kawasan Jalan Pemuda menuju ke Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Seperti halnya fenomena pemindahan pusat pemerintahan yang terjadi di wilayah lain, terdapat rasionalisasi dan latar belakang yang melandasi kebijakan pemindahan pusat pemerintahan di suatu wilayah dilakukan. Rasionalisasi dan latar belakang tersebut dapat menjadi kajian untuk dapat mengetahui bagaimana motif dan kebijakan politik yang akan dilakukan pemerintah. Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui pemaknaan kebijakan, utamanya dalam sudut pandang keruangan pada wacana pemindahan pusat pemerintahan Kota Semarang ke Bukit Semarang Baru (BSB), maka pertanyaan penelitian mengenai “bagaimana aktor pelibat wacana memaknai ruang dalam wacana pemindahan pusat pemerintahan Kota Semarang di Bukit Semarang Baru (BSB) ?” menjadi dasar dari rumusan masalah dalam penelitian ini. Objek utama studi ini adalah kawasan Bukit Semarang Baru (BSB) beserta dengan Kecamatan Mijen yang merupakan tempat dimana pusat pemerintahan baru akan dikembangkan. Kawasan ini merupakan daerah pinggiran Kota Semarang yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, tetapi disisi lain juga terdapat berbagai pertimbangan untuk merealisasikannya. Menggunakan Teori Produksi Ruang milik Lefebvre dan Teori Pemindahan Pusat Pemerintahan milik Rawat, pertimbangan-pertimbangan keruangan dalam wacana pemindahan pusat pemerintahan Kota Semarang akan dianalisis untuk dapat mengetahui bagaimana aktor pelibat wacana memaknai ruang dalam wacana pemindahan pusat pemerintahan ini. Dalam melakukan analisis, data akan diambil melalui wacana yang terdapat pada berita online, website pemerintah, dan media sosial. Data-data tersebut kemudian akan diolah melalui metode analisis wacana semiotika sosial milik Halliday. Metode tersebut penulis gunakan untuk mendapatkan analisis berdasarkan konteks situasi yang merujuk pada aktivitas sosial yang sedang terjadi, peran agen dalam wacana, dan bagian bahasa yang sedang dimainkan dalam situasi. Hasil dari penelitian ini menghasilkan temuan bahwasannya ruang dalam wacana pemindahan pusat pemerintahan Kota Semarang dimaknai oleh para aktor pelibat wacana sebagai sesuatu yang cenderung abstrak. Hal-hal yang berkaitan dengan pelibatan modal serta praktik komodifikasi ruang banyak ditemui dalam penelitian ini.

This study attempts to discuss the phenomenon of discourse on moving the center of government which was originally located in the Jalan Pemuda area to Mijen District, Semarang City. As with the phenomenon of moving the center of government that occurs in other areas, there is rationalization and background that underlies the policy of moving the center of government in a region. The rationalization can be a study to find out what motives and political policies will be carried out by the government. Therefore, in order to find out the meaning of the policy, especially from a spatial perspective on the discourse of moving the center of government of Semarang City to Bukit Semarang Baru (BSB), the research question regarding “how do actors involved in discourse interpret space in the discourse on moving the center of Semarang City government to Bukit Semarang Baru (BSB) ?” is the basis for the formulation of the problem in this study. The main object of this study is the Bukit Semarang Baru (BSB) area along with Mijen District which is the place where the new government center will be developed. This area is a suburb of Semarang City which has great potential to be developed, but on the other hand there are also various considerations to realize it. Using Lefebvre’s Theory of Spatial Production and Rawat’s Theory of The Center of Government, spatial considerations in the discourse on the relocation of the center of Government of Semarang City will be analyzed to find out how actors involved in discourse interprets space in the discourse on the relocation of the center of government. In conducting the analysis data will be taken through discourse found in online news, government websites, and social media. The data will then be processed using Halliday’s social semiotic discourse analysis method. The author uses this method to obtain an analysis based on the context of the situation which refers to the social activity that is taking place, the role agent in the discourse, and the part of language that is being played in the situation. The results of this study produce findings that space in the discourse on the relocation of the center of government in Semarang City is interpreted by actors involved in the discourse as something that tends to be abstract. Matters related to the involvement of capital and the practice of commodification of space are often found in this study

Kata Kunci : Mijen, Ruang, Pusat Pemerintahan Baru, Analisis Wacana

  1. S1-2024-459882-abstract.pdf  
  2. S1-2024-459882-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-459882-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-459882-title.pdf