Analisis Tingkat Kenyamanan Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Surakarta
DIMAS CAHYA KURNIA SAPUTRA, Dr. Kaharuddin, S.Hut., M.Si.
2024 | Skripsi | KEHUTANAN
Kota Surakarta merupakan salah satu kota di Indonesia
yang tidak memiliki kawasan lindung khususnya kawasan konservasi sumberdaya
alam. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan keseimbangan ekosistem di kota
Surakarta dibebankan pada keberadaan dan fungsi
RTH. Namun dewasa ini, keberadaan RTH di Kota Surakarta juga mendapatkan
ancaman dari meningkatnya kondisi termal dan audial. Oleh karena itu penelitian
mengenai analisis tingkat kenyamanan menjadi penting untuk mengetahui kondisi
fisik, tingkat kenyamanan berdasarkan kondisi fisik dan persepsi pengunjung,
serta hubungan kenyamanan diantara keduanya.
Lokasi penetian yang digunakan meliputi RTHP Manahan
dan RTHP Monumen 45 Banjarsari. Pengukuran kondisi fisik dilakukan pada tiap
tipe tutupan tajuk yang terdiri dari rendah, sedang, dan tinggi. Tingkat
kenyamanan kemudian dianalisis dengan thermal humidity index (THI) untuk
termal, Leq [dB(A] untuk audial, dan skoring untuk persepsi pengunjung.
Kedua kenyamanan tersebut kemudian dibandingkan dengan menggunakan uji beda kruskal-wallis.
Kemudian untuk hubungan antara tingkat kenyamanan dianalisis dengan menggunakan
uji korelasi bivariat pearson.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kondisi
fisik di kedua RTHP memiliki nilai rata-rata intensitas cahaya 5476 ± 1047 lux; kecepatan
angin 0,64 ± 0,20 m/s; suhu 32,53 ± 1,75°C; kelembaban 62,58 ± 6,52%;
tekanan suara 63,20 ± 1,80 dB(A); dan kondisi vegetasi yang cukup rapat dengan
statifikasi tajuk A, B, serta C. Hasil analisis kenyamanan juga menunjukkan RTHP Manahan tergolong
sebagian nyaman secara termal dan tidak nyaman secara audial, RTHP Monumen 45
Banjarsari tergolong tidak nyaman secara termal maupun audial, sedangkan
berdasarkan persepsi pengunjung termasuk dalam kategori cukup nyaman dan
berkorelasi yang positif terhadap kenyamanan yang diukur secara fisik.
Surakarta city is one of the cities in Indonesia that does not have a
specific protected area, especially a conservation area for natural resources.
This condition has led to the ecosystem balance in Surakarta's city's reliance
on the presence and function of green open spaces (RTH). However, the existence
of RTH in Surakarta is threatened by increasing thermal and auditory
conditions. Therefore, research on the analysis of comfort levels is important
to determine the physical conditions, comfort levels based on physical
conditions and visitor perceptions, and the relationship between comfort
levels.
Two green open spaces were observed, i.e., Manahan and Monumen 45
Banjarsari. Physical
condition measurements are carried out for each type of canopy cover, which
consists of low, medium, and high. Comfort
levels were then analyzed using the thermal humidity index (THI) for thermal
comfort, Leq [dB(A)] for auditory comfort, and scoring for visitor perceptions.
Both comfort levels were then compared using a Kruskal-Wallis test. The
relationship between comfort levels was analyzed using a bivariate pearson correlation
test.
The research results show that the average physical conditions in both
RTHPs have average light intensity values of 5476 ± 1047 lux; wind speed of 0.64
± 0.20 m/s; temperature of 32.53 ± 1.75°C; humidity of 62.58 ± 6.52%; sound
pressure of 63.20 ± 1.80 dB(A); and fairly dense vegetation conditions with
canopy stratification A, B, and C. The comfort analysis results also show that
the Manahan RTHP is classified as partially comfortable in terms of thermal
comfort and uncomfortable in terms of auditory comfort, while the Monumen 45
Banjarsari is classified as uncomfortable in terms of both thermal and auditory
comfort. However, based on visitor perceptions, it falls into the category of
fairly comfortable and has a positive correlation with physically measured
comfort.
Kata Kunci : ruang terbuka hijau publik, kondisi fisik, kenyamanan termal dan audial, persepsi pengunjung, Kota Surakarta