Laporkan Masalah

Makna Dukungan Sosial dalam Resiliensi Perempuan Penyintas Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Kota Yogyakarta

Clarisa Rara Syauqiyya, Dr. Muhammad Najib Azca S.Sos., M.A.

2024 | Skripsi | Sosiologi

             Berulangnya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) serta dampak buruk yang dihasilkannya menandakan bahwa KDRT telah menjadi masalah sosial. Tidak hanya korban KDRT yang menanggung dampak buruk fisik dan psikis yang diakibatkan KDRT, namun juga orang-orang disekitar korban. KDRT menyebabkan kerugian dan bahkan dapat membahayakan nyawa dalam lingkup rumah tangga. Korban KDRT sebagai pihak yang rentan, tetap berhak mendapatkan kehidupan yang bahagia dan layak pasca terjadinya KDRT. Adaptasi-adaptasi diperlukan agar penyintas dapat resilien dan dapat menjalani peran pada ranah rumah tangga dan juga ranah publik. Salah satu faktor penting dalam terwujudnya resiliensi adalah dukungan sosial. Temuan penelitian dari studi sebelumnya menunjukkan dua pendapat yang mengerucut. Pertama, dukungan sosial memiliki pengaruh terhadap resiliensi, dan yang kedua, dukungan sosial tidak memiliki andil dalam pembentukan resiliensi. Perbedaan tersebut menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut. 
               Oleh karena itu, penelitian ini akan banyak mengeksplorasi mengenai proses resiliensi dan urgensi dukungan sosial pada perempuan penyintas KDRT di Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Analisis makna dan interpretasi dari sebuah fenomena menjadi tepat untuk menelusuri jawaban dari rumusan masalah penelitian. Kemudian, teori yang digunakan adalah teori resiliensi dan teori strukturasi. Terdapat banyak faktor pendukung terjadinya resiliensi yang meliputi dukungan sosial, efikasi diri, perasan bersyukur, kecerdasan emosional, dijalankannya mekanisme koping, perasaan optimis, nilai-nilai religius, dan kondisi sosial ekonomi yang mendukung. Selanjutnya, proses terbentuknya resiliensi dilihat dengan menggunakan variable focused model. Interaksi dari dimensi diri penyintas, pengalaman menghadapi masalah, dan lingkungan sekitar menjadikan penyintas memiliki kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan. Mengulas latar belakang mengenai bagaimana penyintas dapat termotivasi untuk melakukan resiliensi juga penting dilakukan. Pada proses pembentukan tersebut, dukungan sosial sangat diperlukan oleh penyintas untuk meningkatkan efikasi diri dan kesadaran untuk pulih dari luka fisik dan batin akibat KDRT. Dukungan sosial perlu diberikan kepada penyintas hingga diri penyintas dapat berdaya kembali. 

            The recurrence of cases of domestic violence and the resulting negative impacts indicate that domestic violence has become a social problem. Not only the victims of domestic violence who bear the negative physical and psychological effect caused but also those around the victim. Domestic violence causes losses and can even endanger lives in the household. Victims of domestic violence as vulnerable parties, still have the right to a happy and decent life after domestic violence. Adaptations are needed hence survivors can be resilient and play roles in the household and the public sphere. One important factor in realizing resilience is social support. Research findings from previous studies show two narrowed opinions. First, social support influence resilience, and second, social support has no role in forming resilience. Those differences are interesting to study further.
            Therefore, this research will explore the resilience process and the urgency of social support for female survivors of domestic violence in Yogyakarta. The method used in this research was qualitative method with a phenomenological approach. Analyzing the meaning and interpretation of a phenomenon was appropriate to explore the answers to the research problem formulation. Hence, the theory used was resilience theory and structuration theory. There are many factors supporting the occurrence of resilience which include social support, self-efficacy, feelings of gratitude, emotional intelligence, the implementation of coping mechanisms, optimistic feelings, religious values, and supportive socio-economic conditions. Furthermore, the process of resilience formation can be seen using a variable-focused model. The interaction of the survivor's self-dimension, the experience of facing problems, and the surrounding environment gives the survivor the ability to rise from adversity. Reviewing the background of how survivors can be motivated to carry out resilience is also important. In the formation process, social support is needed by survivors to increase self-efficacy and awareness to recover from physical and mental harm due to domestic violence. Social support needs to be provided to survivors so that they can be empowered again. 

Kata Kunci : KDRT, Efikasi diri, Dukungan sosial, Resiliensi, Struktur

  1. S1-2024-446200-abstract.pdf  
  2. S1-2024-446200-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-446200-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-446200-title.pdf